Iwan Fals dan Kekurangajaran Seniman

Iwan Fals | Foto: Istimewa

Di antara sekian banyak lagu Iwan Fals, ada satu yang menggelitik dan jadi pergunjingan di keluarga kami pada tahun 1980-an silam. Lagu itu berjudul “Tolong Dengar Tuhan”.

Tembang yang ada di album bertajuk “Sugali” itu dirilis tahun 1984. Sebuah album dengan sampul berwarna cokelat, bergambar pelaku kriminal yang ditangkap dan dalam kondisi terikat (diperagakan Iwan Fals sendiri), yang seakan siap dieksekusi. “Sugali”, lagu bertema tentang seorang preman ugal-ugalan, ditembak tidak mempan, menjadi andalan di album ini.

Tentu, saat merilis album itu si Virgiawan Listanto (nama asli Iwan Fals) masih muda. Baru 23 tahun. Sebab musisi “musuh” Orde Baru itu lahir pada 3 September 1961.

Bapak terusik dengan syair lagu yang bercerita tentang Gunung Galunggung di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang saat meletus tahun 1982 bikin heboh. Ini karena bait demi bait syairnya mengkritik Tuhan. Mempertanyakan “rasa kasihan” Tuhan terhadap makhluknya di pedesaan, yang orang-orang baik-baik dan tidak manja.

Begini bunyi syairnya:

Hei Tuhan, apakah Kau dengar?
Jerit umatMu, di sela tebalnya debu
Hei Tuhan, adakah Kau murung?
Melihat beribu wajah berkabung
Di sisa gelegar Galunggung

Hei Tuhan, tamatkan saja
Cerita pembantaian orang desa
Yang jelas hidup tak manja

Hei Tuhan, katanya Engkau Maha Bijaksana
Tolong Galunggung pindahkan ke kota
Di mana tempat segala macam dosa

Berat beban kau datangkan
Pada mereka di sana
Cela apa nista apa
Hingga Engkau begitu murka
Sungguh ku tak mengerti

Hingar tangis karena azabMu
Setiap detik duka berpacu
Semakin keras jerit tak puas
Dari mereka yang resah bertanya
Adilkah keputusanMu?

Acap kali rintih memaki
Setiap duka tuding Ilahi
Jangan salahkan kecewa kami
Bosan dalam irama takdirMu
walau ku tak terganggu

Bukankah Kau Maha Tahu, pengasih penyayang?
Namun mengapa selalu saja
Itu hanya cerita

Hei Tuhan, tolong hentikan
Hei Tuhan, dengar rintihan

Amuk lahar yang datang hanguskan bumi
Tinggalkan arang penghuni desa pergi
Gemuruh batu hancurkan saudaraku
Ulurkan tangan bantulah sesamamu

“Kok bisa-bisanya Iwan Fals mengkritik Tuhan, ya?” ujar bapak waktu itu.

Mas Cucuk, kakak saya yang paling tua, si pemilik kaset, menjawab dengan lugas, bahwa sepertinya Iwan Fals hanya menyampaikan unek-uneknya dengan jujur. “Dia menyampaikan dengan apa adanya,” jawab kakak saya.

“Iya, Iwan ini kayak maha tahu saja, mengkritik Tuhan. Memangnya dia lebih tahu dari Tuhan?” sindir bapak, sambil tersenyum. Tidak marah, atau tersinggung. Cuma heran dan memancing respon anak-anaknya untuk berkomentar.

Saya sendiri waktu diskusi itu berlangsung masih duduk di bangku SMP. Tahun 1985. Saya hanya menguping perbincangan itu saja. Tetapi sangat teringat kalimat-kalimat mereka.

Bapak yang seorang guru, penggemar musik keroncong, langgam, gamelan, tidak alergi dengan Iwan Fals. Dia sangat suka dengan lagu “Oemar Bakrie”, karena sangat mewakilinya yang suka bersepeda onthel, sepeda kayuh.

“Dia (Iwan Fals) kayaknya nggak tega melihat korban letusan Gunung Galunggung. Makanya dia bikin lagu ini. Mungkin ini karena kegelisahan dia,” jawab kakak saya, lagi.

“Memangnya Tuhan tidak boleh dikritik? Dipertanyakan?” celetuk kakak saya yang lainnya, Mas Aang, yang waktu itu sudah SMA.

“Tapi, memang kasihan kan, warga sekitar Gunung Galunggung yang menjadi korban,” timpal kakak saya yang perempuan, Mbak Wiwiek.

“Nggak apa-apa sih mengkritik Tuhan. Cuma, menurutku ya aneh saja kedengarannya. Kok bisa-bisanya dia mengkritik Tuhan. Kita kan tidak tahu apa di balik semua kehendak Tuhan. Kan Tuhan yang Maha Tahu terhadap semua kejadian yang dikehendakinya. Kalau Galunggung itu di Jakarta misalnya, kan korban yang mati lebih banyak. Kerugian lebih besar,” jawab bapak.

Kami semua akhirnya tertawa. Ujung-ujungnya, dari diskusi itu berkesimpulan bahwa Iwan Fals adalah tipe orang yang suka berterus terang. Blak-blakan. Lugas. Apa adanya.

Untung, almarhum Bapak tidak mendengar album sebelumnya, “Sumbang”, yang beredar tahun 1983. Di situ ada lagu berjudul “Semoga Kau Tak Tuli Tuhan”.

Syairnya antara lain berbunyi:

Begitu halus tutur katamu
Seolah lagu termerdu
Begitu indah bunga-bungamu
Di atas karya sulam itu
Tampilkan kebajikan seorang ibu

Dengarlah detak jantung benihku
Yang kutanam di rahimmu
Seakan pasrah menerima
Semua warna yang kita punya
Segala rasa yang kita bina

Kuharap kesungguhanmu
Kaitkan jiwa bagai sulam di karya itu
Kuharap keikhlasanmu
Sirami benih yang kutabur di tamanmu

Oh jelas, rakit pagar semakin kuat
Tak goyah, walau diusik unggas

Pintaku pada Tuhan mulia
Jauhkan sifat yang manja
Bentuklah segala warna jiwanya
Di antara lingkup manusia
Di arena yang bau busuknya luka

Bukakan mata pandang dunia
Beri watak baja padanya
Kalungkan tabah kala derita
Semoga kau tak tuli Tuhan
Dengarlah pinta kami sebagai orang tuanya

Di lagu ini Iwan Fals tampak “akrab sekali” dengan Tuhan, sehingga ia pun berharap Tuhan tidak tuli terhadap doanya. “Kalungkan tabah kala derita, semoga kau tak tuli Tuhan, dengarlah pinta kami sebagai orang tuanya,” begitu antara lain kalimat keakraban itu.

Kalau mendengar kalimat itu secara sepintas mungkin orang bisa jengah dibuatnya. Tetapi bila dihayati, di situ ada atmosfer keakraban ala seniman.

Ahmad Wahib, seorang cendekiawan asal Madura seangkatan dengan Soe Hok Gie, yang juga meninggal di usia muda, dalam catatan hariannya “Pergolakan Pemikiran Islam”, menilai bahwa seniman merupakan sedikit golongan manusia yang “akrab” dengan Tuhan. Dan terkadang keakraban itu membuatnya aneh, eksentrik, bagi orang awam yang melihatnya.

Keakraban itu bisa dilihat juga dari lagu-lagu Iwan Fals lainnya, dari album awal sampai akhir, yang sarat akan kritik sosial, menyuarakan kaum lemah, kaum papa, dan orang pinggiran. Itu sudah merupakan ibadah sosialnya. Tanpa harus membuat sampul dengan tulisan: “Album Religi”, karena album-album itu sejatnya sudah merupakan album religi secara esensial, meskipun sampulnya tidak menyebut begitu.

Bagi sebagian kalangan, ada keyakinan bahwa cendekiawan, pemikir, budayawan, adalah segolongan manusia yang di dalam darahnya mengalir DNA (deoxyribonucleic acid, asam deoksiribonukleat) “seniman”. DNA adalah zat genetik yang di dalamnya terdapat sel yang mewarisi karakteristik sel induknya secara turun temurun. Meskipun proses pewarisan itu kadang meloncat, terjeda, atau tidak langsung berurutan. Seniman merupakan sedikit dari miliaran manusia di jagat raya ini yang mempunyai DNA kepekaan terhadap alam semesta dan penciptanya.

Tentu saja tidak dapat digeneralisir bahwa semua seniman adalah mahluk kesayangan yang akrab dengan Tuhan. Karena kadar kepekaan masing-masing seniman berbeda, dan level maupun kemampuannya dalam mengelola kepekaan itu juga tidak sama. Seniman yang terbiasa melatih kepekaan batinnya, bisa merasakan segala kehalusan dari cita rasa, gejolak, tengara alam, atau menangkap “sinyal” dari Sang Pencipta.

Mudah merasakan kepiluan, kegamangan, kegelisahan, yang bisa menjadi isyarat atau pertanda. Karenanya mereka menjadi mudah tidak tegaan, gampang merasa kasihan melihat penderitaan. Namun sebaliknya, seniman juga bisa mudah murka melihat ketimpangan dan penindasan. Mereka mampu menangkap kegelisahan sekaligus menuangkannya lewat warna, kata-kata, tulisan, musik, sesuai apa yang biasa ditekuninya.

Dengan segala kepekaan itu, seniman bisa satu chemistry dengan segala fenomena alam. Dalam ruang kepekaan itu, seniman bisa menyamakan frekuensi mata batin dengan filsuf yang terbiasa merenung, fisikawan atau matematikawan yang biasa bergumul dengan angka-angka dan logika matematis yang ujung-ujungnya mencerna kemahaluasan dan kefanaan.

Seorang Albert Einstein maestro ilmu fisika yang ahli nuklir bisa begitu asyik, masyuk bermain biola dengan rambut acak-acakannya, saat sudah tidak memikirkan dirinya. Seorang Kyai Ahmad Dahlan, dengan kedalaman pemahaman tasawufnya, bisa juga terhanyut dengan permainan biolanya. Atau sufi tersohor kelahiran Afganistan yang wafat di Konya, Turki, Maulana Jalalludin Rumi, juga dikenal dengan kenyentrikan tarian sufinya.

Demikian halnya dengan Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh, seniman jalanan asal Jombang. Ketika ia sedang banyak rezeki berkat lagunya “Kugadaikan Cintaku” menjadi hits dan penjualan albumnya lumayan bagus, mempunyai cara tersendiri dalam mengekspresikan keakrabannya dengan Tuhan. Tanpa perlu pamer-pamer seperti selebritis zaman sekarang, dia bersedekah dengan cara membagi-bagikan berbecak-becak beha dan celana dalam kepada para pelacur di komplek Dolly, Surabaya.

Atau mendiang Mbah Surip, yang karirnya sempat melesat dan pertunjukannya laris manis, berkat beberapa lagunya yang ngehits: “Bangun Tidur”, “Tak Gendong”, “I Love You Full”. Selepas keluar-masuk hotel dan studio televisi, dengan sesukanya ia ke sana ke mari membawa tas berisi segepok duit lalu dibagi-bagikan kepada para pengemis dan gelandangan di jalan-jalan.

Mereka masing-masing mempunyai jangkauan frekuensi untuk bisa akrab dengan Tuhan, melalui pencarian-pencariannya masing-masing, dan dengan caranya sendiri-sendiri. Namun ada kalanya seniman juga bersikap “kurang ajar” bila merasa sudah akrab dengan Tuhan. Sebetulnya ini biasa saja, karena yang Maha dari segala mahadiraja-seniman adalah Tuhan, maka Sang Maha Pencipta ini sejatinya adalah Sang “Seniman” Agung. Hal ini seperti dikatakan A.T. Mahmud lewat lagu “Pelangi”-nya.

Kebanyakan orang awam mungkin akan heran melihat fenomena kesenimanan dan menilainya dengan segala sinisme. Hal ini karena mereka tidak bisa merasakan kepekaan seniman, filsuf, sufi, fisikawan yang tidak terceritakan itu.

Di zaman Rasulullah Muhammad SAW juga ada seorang seniman, seorang komedian. Namanya Nuaiman, yang merupakan Sahabat kesayangan Rasul. Ia sering diajak ketika Rasul bepergian. Versi lain menyebutakan bahwa Nuaiman ini sebenarnya seorang sufi yang dari luarnya tampak suka melucu, namun di dalam hati sejatinya ia selalu berdzikir serta bershalawat, tanpa diketahui banyak orang. Dan suatu ketika Rasullullah pun pernah menegur orang yang menghardik Nuaiman seraya mengingatkan bahwa sesungguhnya Nuaiman adalah orang yang mencintai Allah dan Rasulullah.

Saking akrabnya dengan Rasul dan para Sahabat, Nuaiman pun berani mengerjai (atau istilah gaulnya sekarang “ngeprank”) Rasul dan para Sahabat. Terkadang bercandanya juga kelewatan, dari memotong unta tamunya Rasul hingga mengerjai Sayidina Usman.

Seniman memang seringkali leluasa masuk ke ruang-ruang yang orang awam tabu untuk memasukinya. Mungkin dari luar yang terlihat adalah ketidaklaziman dan kenyentrikan. Namun bagi yang menjalani bisa jadi ada suatu proses yang tak terceritakan. Ada semacam proses keterasingan, yang hanya si seniman itu sendiri yang bisa merasakannya. Wallahu a’lam.

Jurnalis dan kolumnis asal Jepara, tinggal di Bali.