Koplonya Pantura

Truk sound system. | Foto: Facebook.

“Koplo”. Kata ini konotasinya memang terasa tidak enak. Menurut kelaziman sama sekali tidak nyaman. Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “koplo” (dari Bahasa Jawa) artinya dungu. Maknanya setali tiga uang dengan bodoh.

Karena sudah tercantum dalam KBBI, maka penulisannya tidak perlu miring atau italic. Istilah koplo sendiri mulai mengemuka di era 1990-an. Penyebabnya adaalah pil (obat tablet) pembuat kecanduan, yang bukan jenis psikotropika mahal macam ekstasi atau sabu-sabu. Pil itu disebut pil koplo. Pil yang membuat bodoh.

Entah bahannya berstandar atau tidak, layak atau tidak, sulit diketahui secara pasti. Yang jelas harga pil koplo ini lebih murah daripada ekstasi. Segmennya kelas menengah ke bawah, di kala zat candu psikotropika menggejala luas di kalangan atas di era 1990-an pada masa Orde Baru.

Belakangan istilah koplo juga digunakan untuk menyebut suatu sub-genre dalam musik dangdut yakni “dangdut koplo”. Cirinya adalah digunakannya kendhang (gendang Jawa/gendang besar) sebagai instrumennya selain ketipung (gendang kecil) dengan ritme yang cepat seperti house music.

Dangdut koplo ini disebut-sebut muncul dan berkembang di wilayah pantai utara (pantura) Pulau Jawa, dari timur kemudian meluas, pada periode awal tahun 2000-an.

Selain irama dangdut, di dalamnya juga ada cita rasa gendang jaipong Sunda, gendang reog Ponorogo, energi musik rock hingga melodi heavy metal, serta ritme house music atau disco. Sungguh lengkap. Kaya rasa.

Di pantura, dangdut jenis ini sangat cepat meluas di kalangan anak mudanya. Karena lebih dinamis, lebih rancak, lebih ritmis. Dengan koor “hoka- hoke”. Atau : “eee-a” dari para pemusik pengiringnya. Lengkap sudah. Dalam perkembangannya dangdut koplo juga menyebar ke wilayah selatan.

Siapa yang pertama kali yang memberi nama dangdut koplo, siapa pencetusnya, dan apa hubungannya dengan pil koplo, sejauh ini belum diketahui secara pasti. Bisa jadi awalnya sekadar joke saja, yang kemudian disepakati bersama sebagai penamaan genre baru. Seperti halnya penamaan “dangdut” dulu yang berasal dari bunyi gendangnya di tahun 1970-an. Untuk memastikan hal ini mangkin diperlukan sebuah penelitian. Namun yang jelas, menurut hemat penulis, baik pil koplo maupun dangdut koplo dapat menimbulkan efek yang tidak jauh berbeda: trance. Kesurupan. Nge-fly. Mungkin karena efeknya itulah ia disebut dangdut koplo.

Tipikal masyarakat pantura yang fleksibel, adaptif terhadap perubahan zaman, dan sedikit agak krosokan, sepertinya tak ambil pusing dengan peristilahan. Terserah saja mau dinamakan apa, yang penting asyik-asyik saja.

Yang pasti, di Jepara tempat asal saya, salah satu daerah di wilayah pantura, dangdut koplo sudah sangat diakrabi. Kalau naik bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), dangdut koplo menjadi menu wajib. Grup dangdut New Pallapa, Monata, New Monata, atau sosok ikoniknya macam Cak Sodiq, adalah sederet nama yang lekat dengan dangdut koplo itu. Mungkin sudah melebihi dangdut klasiknya Rhoma Irama, Elvie Sukaesih, Rita Sugiarto, A. Rafiq, apalagi yang lebih tuaan lagi macam Ellya Khadam.

Bagi kalangan milenial pantura di Jepara, dangdut koplo itu ibarat mereka sendiri. Paling tidak, begitu yang saya tangkap dari tetangga dan kerabat yang ada di sana.

Di akhir April 2022, kami sekeluarga pulang dari perantauan di Bali ke Jepara untuk berlebaran. Begitu memasuki wilayah Kecamatan Keling, “aroma” bau-bauan dangdut koplo sudah terasa. Sejumlah mobil pikap juga truk kecil sudah berlalu lalang dengan musik dangdut koplo. Mereka sudah keliling sejak siang, hingga sore hari untuk check sound. Suaranya begitu menggelegar. Tak terbayang berisiknya. Jantung rasanya berdegup-degup. Kaca bus bergertaran, seirama dentuman suara bas dangdut koplo itu. Seakan mau rontok saja. Entah berapa desibel kekuatannya.

Usut punya usut, ternyata itu merupakan tradisi baru menyambut Lebaran. Sound system yang berkekuatan sangat besar menggelegar untuk berkeliling takbiran di malam Lebaran. Sound system itu disewa dengan ongkos hingga belasan juta rupiah. Dari mana duitnya? Iuran. Saweran. Dari puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan. Sukarela. Seikhlasnya. Yang penting gembira. Bahagia. Meskipun sejenak.

Setelah itu, di malam hari, menyambut Lebaran, pikap-pikap, truk-truk dengan dilengkapi genset sudah berlalu-lalang dengan dengan musik dangdut koplo menggelegar.

Tetapi jangan salah sangka. Mereka tidak menyuguhkan lagu-lagu dangdut yang sedang ngehits. Macam lagunya Nella Kharisma, Via Vallen, Denny Caknan, dan semacamnya, melainkan musik dangdut koplo untuk mengiringi takbiran.

Iya. Takbiran dengan iringan musik dangdut koplo. Aneh rasanya. Dulu, awal-awal menyaksikan mereka, terus terang sempat kaget. Jengah. Dangdut koplo untuk mengiringi takbiran. Namun, ya begitulah adanya. Akhirnya terbiasa juga.

Kok bisa, takbiran menggunakan iringan musik dangdut koplo? “Kalau zaman Demak dulu sudah ada sewa sound system, mungkin juga takbiran menngunakan sound system. Pakai dangdut koplo juga, ya macam begini juga. Namun karena dulu adanya gamelan, beduk, ya pakai beduk, pakai gamelan, hehehe,” jawab Iwan, salah seorang kerabat saya.

Katanya, meskipun musiknya dangdut koplo, tetapi tetap menyampaikan takbir. Tetap mengagungkan Tuhan. “Yang penting niatnya: untuk takbiran,” katanya. Tanpa menjelaskan apakah ada di antara anak muda itu “dalam kondisi koplo” saat acara berlangsung.

Begitulah, di salah satu sudut pantura. Musik dangdut koplo sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Atau bahkan kebutuhan hidup yang tidak terpisahkan, di kalangan anak mudanya yang pencinta dangdut.

Sang Raja Dangdut Rhoma Irama boleh saja terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya terhadap dangdut koplo dan melarang lagunya “dikoplokan”. Ini mirip dengan reaksi vokalis Led Zeppelin, Robert Plant, salah satu founding father musik rock heavy metal Inggris, yang tidak suka musik punk rock, yang disebutnya “semaunya”. Meskipun dia menghormati semangat perlawanan para punk rocker.

Bagi anak-anak muda pencinta dangdut koplo pantura, itu bukan urusan yang sulit dan dipermasalahkan. Masih banyak lagu dan genre musik lain yang bisa “dikoplokan”.

Kadang, pikiran saya membayangkan, jangan-jangan dulu, sekitar 500-an tahun silam, tahun 1500-an, saat pasukan perang armada laut Demak, dari Jepara, era Adipati Unus, juga era Ratu Kalinyamat, membantu Kesultanan Malaka melawan Portugis, ribuan prajurit yang gagah berani dan gugur di Malaka itu juga saat berangkat perang diiringi dengan gamelan, dengan rebana, dengan musik di era itu.

Bisa jadi. Karena musik itu mengiringi semangat zamannya. Tentu saja dulu, di era Kerajaan Demak, era Kalinyamatan, belum ada dangdut koplo.

Sekian ratus tahun kemudian baru muncul musik yang begitu dinamis, energik, bisa ngerock, bisa reggae, bisa disco, bisa ngejazz, dengan balutan saksofon, juga disukai mendarah daging. Dan, dengan santai mereka tak ambil pusing dengan sebutan genre musik itu sebagai musik dangdut koplo. Cuma (sekadar) istilah, yang penting nikmat untuk berjoget. Asyik untuk bergoyang. Dinikmati saja.

Jurnalis dan kolumnis asal Jepara, tinggal di Bali.