Jejak Leluhur Gus Dur di Karangasem

Masjid Al-Fatul Djalil, di Banjar Saren, Bebandem, Karangasem. Masjid peninggalan Syekh Abdul Jalil ini pernah direhab berulang kali, hingga bentuknya seperti ini. | Foto: Hari Puspita.

Tolong, jangan ambil pusing dengan judul tulisan ini. Jujur saja, judul memang dibuat untuk menarik perhatian. Apakah faktual atau tidak. Bisa dibuktikan secara logis atau fiktif, ya … wallahua’lam.

Yang jelas, jejak peninggalan leluhur Kyai Haji Abdurrahman Wahid itu ada di Karangasem. Ini terkait nama ratusan tahun silam yang disebut sebagai leluhur. Dan, itu dituturkan Gus Dur secara langsung. Percakapan itu juga ada rekamannya.

Yakni dalam sebuah konten YouTube, almarhum Gus Dur, semasa hidup, menuturkan bahwa dirinya masih keturunan dari Syeh Abdul Jalil alias Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. Video lengkapnya bisa disimak di sini.

Sosok seniman, budayawan, ilmuwan, agamawan, kyai, mantan presiden, sekaligus master komika yang tak pernah kekeringan ide banyolan ini blak-blakan keturunan Syekh Siti Jenar.

Memangnya dari jalur mana? Ya, jalur dari Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar.

Ini sejatinya bukan hal yang baru. Dalam buku Trilogi Syekh Siti Jenar (terbitan Narasi)karya Kyai Haji Muhammad Solikhin–seorang kyai asal Boyolali, Jawa Tengah–juga disebutkan bahwa Raden Sahid alias Sunan Kalijaga menikah dengan Siti Zaenab, puteri Syekh Abdul Jalil dari istri yang dari India.

Cerita serupa juga saya dapatkan saat berbincang dengan almarhum Kyai Haji Agus Sunyoto, di Denpasar, sebelum meninggal, seusai pengajian Maulid Nabi, di Kesiman, Denpasar Timur.

Putri yang terlahir dari perkawinan Sunan Kalijaga dan Siti Zaenab itu menikah dengan Ki Ageng Pengging muda, alias Kebo Kenanga, putra Ki Ageng Pengging Sepuh, alias Handayaningrat.

Dari perkawinan tersebut, salah satunya melahirkan Raden Abdurrahman alias Joko Tingkir, yang kelak bergelar Sultan Hadi Wijaya, yang menurunkan Raden Benawa (Raden Abdul Halim) dan seterusnya.

Intinya, garis nasab yang sampai kepada Sunan Kalijaga dan Syekh Datuk Abdul Jalil alias Syekh Siti Jenar itu, ya … seperti itu cerita singkatnya.

Nah, Syekh Datuk Abdul Jalil ini ternyata ada jejaknya yang sampai di Bali. Di Karangasem. Tepatnya di Banjar Saren Jawa, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem. Ada peninggalan Masjidnya pula. Masjid itu akhirnya diberi nama Masjid Al-Fathul Jalil, di wilayah ujung paling timur Pulau Dewata.

Jadi, tidak hanya pesantren Lemah Abang, yang tersebar dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Dari Bekasi, Tangerang, Jepara, Pasuruan, Malang, sampai Banyuwangi, melainkan juga sampai di Bebandem, Karangasem, Bali.

Berdasarkan folklore, cerita rakyat yang beredar di Bali dan abadi hingga sekarang, khususnya di Bebandem, menyebutkan bahwa Syekh Abdul Jalil mendapat tugas dari Sultan Demak, Raden Patah untuk syiar Islam di Bali. Abad ke-15. Selepas tahun 1.400-an, Masehi.

Waktu itu Bali di era kerajaan Gelgel, di Klungkung. Era kepemimpinan, era Raja Klungkung, Dalem Waturenggong. Dalem Waturenggong menjawab secara simbolis, mau masuk Islam apabila bisa mencukur bulu kakinya, kepada Syekh Datuk Abdul Jalil dan para pengikutnya dari Jawa.

Dan menurut cerita, bulu kakinya tidak bisa dicukur. Singkat kata: batal jadi muallaf. Tidak jadi masuk Islam. Tapi tetap santai saja. Woles-woles saja. Tetap damai, dan tidak ada keributan.

Dalam kurun waktu itu, di wilayah Karangasem, tepatnya di Bebandem, sedang terjadi kekacauan. Ada sapi warak (ada sebagian yang menafsirkan warak adalah badak, satwa dengan nama latin Rhinocerotidae) yang mengamuk di wilayah Bebandem, Karangasem. Mungkin pada tahun segitu masih ada habitat badak di sana.

Syekh Abdul Jalil berhasil membunuh sapi warak itu di malam hari, saat si sapi sedang sare atau tidur. Makanya, daerah itu selanjutnya diberi nama Banjar (kampung) Saren Jawa. Dari kata sare, bahasa Bali, yang artinya tidur.

Sebutan itu menjadi sarean, lantas menjadi Saren. Banjar (kampung) Saren. Semacam kampung otonomi khusus atau mungkin wilayah perdikan untuk warga muslim, bagi Syekh Abdul Jalil bersama pengikutnya, dulu.

Ada tambahan Jawa, karena Syekh Abdul Jalil dan pengikutnya datang dari Jawa. Sampai sekarang namanya Banjar Saren Jawa. Seperti itu, inti cerita dari Ustadz Yusuf, salah satu keturunan Syekh Abdul Jalil, di Banjar Saren, Bebandem, Karangasem. “Ya, seperti itu ceritanya,” jelas Ustadz Yusuf.

Saya juga sempatkan waktu untuk mengonfirmasi dengan warga setempat, krama Hindu di tetangga banjar sebelah, di Buddha Keling. Ceritanya juga sama, kurang lebihnya.

Versi cerita warga Banjar Saren Jawa, Syekh Abdul Jalil bersama pengikutnya  berketurunan di sana. Beranak pinak sampai sekarang. Menghuni wilayah itu.

Mereka hidup rukun, tenteram damai bersama warga setempat, krama penganut Hindu. Mereka biasa berbagi dalam harmoni di saat hari raya masing-masing. Sampai sekarang. Di era milenial ini.

Rekam jejak Syekh Abdul Jalil alias Syekh Siti Jenar memang dipenuhi kontroversi. Yang membuat kontroversi semakin rumit adalah cerita mainstream yang sudah telanjur tertanam selama beradab-abad. Selama ratusan tahun. Ditumbuhsuburkan di era Belanda hingga era Orde Baru. Termasuk film-filmnya. Sering tayang ulang pula, bak film Pengkhianatan G30S/PKI.

Dari cerita-cerita versi Jawa Tengahan, Jawa Timuran, versinya dominan tentang penyimpangan. Bahkan yang lebih keji “dibinatangkan”. Ada versi cerita berasal dari cacing, hingga meninggal jadi anjing. Benar-benar dinistakan. Kejam, nian.

Bagi orang-orang yang ingin mengetahui secara mendalam, biasanya akan mencari literatur tersendiri. Yang menafsir secara positif dan baik-baik saja antara lain tulisan-tulisan, buku-buku dari Abdul Munir Mulkhan, Mohammad Chozim, Kyai Haji Muhammad Sholikhin dan almarhum Kyai Haji Agus Sunyoto.

“Saya bertahun-tahun menerjemahkan naskah Cirebonan, yang lebih fair tentang Syekh Abdul Jalil,” tuturnya, saat saya tanya tentang proses kreatif novel Suluk Siti Jenar yang terbit dalam tujuh seri itu.

Mungkin mirip Harry A. Poezze yang mengahbiskan bertahun-tahun waktu hidupnya untuk menelisik Tan Malaka, maka Kyai Agus Sunyoto juga bertahun-tahun menghabiskan waktunya untuk menelusuri Wali Songo dan Syekh Datuk Abdul Jalil.

Dan, saya merasa sangat beruntung sempat ngobrol dengan beliau meskipun hanya satu pertemuan saja, seusai acara pengajian di Masjid Al Hikmah di Jalan Soka, Denpasar Timur, Sabtu, 9 November 2019. Tetapi sangat bermakna, karena sejumlah teka-teki sudah terdiskusikan.

“Ada semacam perbedaan konsep dalam urusan syiar Islam, antara Syekh Abdul Jalil dengan sejumlah kalangan kalangan wali, ulama Demak pada saat itu. Antara yang ingin menyampaikan ajaran fikih, syariat dengan mereka yang lebih ke pendekatan kultural, sesuai dengan zamannya saat itu,” ucap mendiang Mbah Agus Sunyoto.

Ini juga terungkap dalam sesi Tanya jawab di akun YouTube, yang menguraikan juga tentang gerakan sosial kepemilikan tanah, di setiap zona Lemah Abang. Selengkapnya bisa disimak di sini.

“Yang jelas, tidak ada itu Wali Songo membunuh Syekh Siti Jenar. Itu tidak ada. Apalagi Sunan Kalijaga membunuh Syekh Siti Jenar. Wong, Syekh Datuk Abdul Jalil itu mertuanya sendiri. Masak mantu, sesama wali juga, membunuh mertuanya? Nggak ada itu. Nggak mungkin,” jelasnya, menandaskan hasil penelisikan literasinya.

Ada semacam cerita tabu yang mencuat sejak era Demak dalam pemerintahan Raden Patah. Di sebagian kalangan Jawa pada zamannya, Handayaningrat atau Ki Ageng Pengging Sepuh, yang tinggal di Pengging, Boyolali, itu dinilai lebih berhak sebagai penerus tahta Majapahit daripada Raden Patah.

Dan, repotnya Ki Ageng Pengging Sepuh maupun Ki Ageng Pengging Muda yang lebih suka jadi petani bukan raja akrab dengan Syeh Abdul Jalil. Juga tidak hitam-putih, perseteruannya. Karena dalam perkembangan selanjutnya ada kawin- mawin dari masing-masing keturunan mereka.

“Ini sifatnya politis. Menurut saya lebih politis dan berkelanjutan menjadi cerita mainstream sampai ratusan tahun setelahnya,” imbuh Mbah Agus Sunyoto.”Kalau soal ajaran wahdatul wujud, manunggaling kawula lan Gusti, wali-wali yang lain juga wahdatul wujud. Nggak ada masalah,” jelasnya. Kurang lebih seperti itu.

Gesekan perbedaan konsep itu berlanjut, sejatinya. Yakni, antara yang ingin lebih cepat menerapkan syariah, fikih, dengan mereka yang lebih sepakat untuk syiar Islam secara kultural, lebih ngeslow, perlahan-lahan, yang dicap sebagai Islam Abangan atau Islam Kejawen. Fenomena adanya salat daim, adalah salah satu contohnya.

Butuh waktu ratusan tahun untuk bisa “berdamai” dalam masalah perbedaan konsep itu. Dari era Sunan Kalijaga, Syekh Siti Jenar, Sunan Kudus, hingga Syekh Ahmad Mutamakkin versus Khatib Anom, Kudus.

Bahkan sampai sekarang, di era gadget ini, masih ada kejadian orang menendang sesajen di kawasan Gunung Semeru. Masih belum selesai dialog, dialektika, polemik, yang menjadi bagian dari dinamika itu.

Jurnalis dan kolumnis asal Jepara, tinggal di Bali.