Aisyah dan Kalung Oniknya

Dalam sebuah perjalanan bersama para Sahabat, Rasulullah Muhammad SAW membawa serta istrinya, Siti Aisyah. Ia ditemani Umm Salamah. Saat matahari tenggelam, Rasulullah beserta rombongan beristirahat setelah menempuh perjalanan yang melelahkan. Seuntai kalung onik milik Aisyah, sebuah hadiah pernikahan dari ibunya, hilang. Aisyah baru tersadar bahwa kalungnya hilang ketika hari sudah gelap dan tidak mungkin dilakukan pencarian. Aisyah tidak mau melanjutkan perjalanan tanpa kalung kesayangannya itu.

Kalung itu sangat berharga baginya. Ibundanya yang mengalungkan di hari pernikahannya dengan Rasulullah. Setelah berita kehilangan kalung Aisyah itu, Rasulullah memerintahkan semua Sahabat dalam rombongannya untuk berhenti dan menunda perjalanannya. Namun, di tempat pemberhentian itu tidak bisa ditemukan air, sedangkan saat-saat mendirikan salat telah tiba. Perubahan rencana ini menyebar dari mulut ke mulut.

Di antara rombongan itu ada yang merasa kesal karena harus berhenti di tempat yang gersang dan tidak terdapat air. Banyak pula yang mengeluhkan alasan penundaan perjalanan ini hanya karena seuntai kalung onik milik Ummul Mukminin, Siti Aisyah. Beberapa Sahabat mengadukan keluhannya kepada Abu Bakr. Sahabat yang sekaligus mertua Rasulullah ini pun merasa sangat malu atas keteledoran putrinya yang berakibat menyusahkan banyak orang.

Beberapa Sahabat mencari-cari sumber air, sumur, dan sebagainya, namun hasilnya nihil. Persediaan air makin menipis dan seluruh anggota rombongan mulai kehausan. Kantong-kantong kulit untuk air telah kosong. Sebagian di antara mereka mengingatkan bahwa saatnya mencari air untuk berwudlu. Hingga waktu subuh tiba, semua mengharapkan adanya air untuk melaksanakan salat.

Tiba-tiba, pada detik-detik terakhir waktu subuh, turunlah sebuah wahyu kepada Rasulullah yang kemudian yang sangat penting artinya dalam praktik kehidupan masyarakat saat itu dan di masa yang akan datang. Wahyu tersebut berisi tentang perintah dan tatacara bertayamum sebagaimana terdapat pada QS. 4:3,

”Dan jika kamu tidak menemukan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci), lalu usaplah muka dan tanganmu.”

Luapan kegembiraan membuncah menyelimuti seluruh rombongan demi mendengar datangnya petunjuk dari Allah SWT tersebut. Lalu Sahabat Usayd pun berkata,

”Ini bukanlah keberuntungan pertama yang engkau bawakan kepada kami, wahai keluarga Abu Bakr!”

Setelah siang tiba, kalung itu belum juga ditemukan. Harapan untuk bisa menemukannya telah sirna dan rombongan tengah berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan. Unta yang dikendarai Aisyah pun bangkit dari tempatnya berlutut sepanjang malam. Ternyata, kalung onik yang selama ini dicari tergeletak di bawah unta tersebut.

Tempat pemberhentian berikutnya adalah sebuah lembah dengan hamparan pasir yang sangat luas. Dua tenda Rasulullah telah dipancangkan. Seperti biasanya, tenda itu terpisah dari tenda-tenda lainnya. Dan pada hari itu giliran Aisyah yang bersama Rasulullah. Di kemudian hari, Aisyah mengenang peristiwa saat ia mengusulkan kepada Rasulullah bagaimana kalau ia berlomba lari kembali.

“Aku mengenakan jubahku,” kata Aisyah. Rasulullah pun melakukan hal yang sama, dan mereka lantas berlomba yang kemudian dimenangkan oleh Rasulullah.

“Ini untuk perlombaan dulu ketika engkau pernah memenangkannya,” kata Rasulullah sambil menganakan jubahnya kepada Aisyah seuasai perlombaan itu.

Untaian kalung Aisyah tidak cukup kuat. Di tempat pemberhentian yang kedua ini, kalung itu terlepas lagi dari leher Aisyah. Ini terjadi ketika perintah keberangkatan telah diberikan dan robongan bersiap melanjutkan perjalanan. Aisyah baru tersadar bahwa kalung yang dipakainya hilang lagi. Karena itu ia pun keluar dari Hawdah (bilik yang ada di atas untanya) untuk mencarinya. Sementara orang-orang yang meletakkan Hawdah itu ke atas punggung unta tidak mengetahui hal itu.

Ketika rombongan melanjutkan perjalanan, mereka tidak menyadari bahwa Aisyah tidak ikut di dalamnya. Ia masih berada di tempat pemberhentian dan tengah sibuk mencari kalungnya yang hilang untuk kedua kalinya. Ketika Aisyah menemukan kalungnya, ia telah tertinggal cukup jauh dan hanya sendirian di tempat itu. Lalu ia pun mendatangi bekas kemah yang masih terdapat di situ dan tertidur di dalamnya karena kelelahan.

Keadaan itu kemudian didapati oleh Sahabat Shafwan yang tengah melintas. Shafwan terkejut setelah mengenali perempuan yang tertidur di dalam tenda yang dijumpainya adalah Ummul Mukminin. Demi melihat itu, seketika ia mengucap, “innalillahi wa Inna Ilaihi raji’un.” Mendengar suara itu, Aisyah terbangun dan segera mengenakan burkanya. Shafwan kemudian mengajak Aisyah untuk melanjutkan perjalanan bersamanya pulang ke Madinah.

Tibalah rombongan Rasulullah di tempat pemberhentian berikutnya sebelum sampai di kota Madinah. Mereka terkejut karena mendapati salah satu Hawdah yang mestinya berisi Ummul Mukminin Aisyah ternyata kosong. Dan beberapa waktu kemudian datanglah Aisyah yang menunggangi unta dikawal oleh Shafwan. Peristiwa inilah yang menjadi awal sebuah keguncangan di kota Madinah.

Lidah-lidah kaum munafik mulai menyebarluaskan berita kedatangan Aisyah bersama Shafwan. Kala itu Rasulullah tidak menyadari beredarnya berita itu di masyarakat, termasuk di mayoritas Sahabat . Peristiwa ini dan tuduhan-tuduhan kaum munafik kemudian dan menyebabkan Aisyah jatuh sakit. Ketika dijenguk oleh Rasulullah, Aisyah meminta izin agar dirawat oleh ibunya. Di rumah ibundanya Aisyah mengadukan semuanya.

Banyak pula warga Madinah yang menanyakan kepada Sahabat Abu Bakr tentang kebenaran kabar kembalinya hanya berdua Aisyah dan Shafwan pada ekspedisi bersama Rasulullah. Dan kabar ini pun sampai kepada Rasulullah, dan Rasulullah sempat merasa gelisah dan tidak banyak berbicara. Tidak juga membantah tuduhan tersebut. Hingga suatu ketika beliau duduk kemudian tubuh dan wajahnya berkeringat sangat banyak. Beliau telah menerima wahyu untuk meluruskan tuduhan-tuduhan orang munafik pada Aisyah, yakni QS. 24: 11-18,

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula).

Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata, ‘Ini adalah (suatu berita) bohong yang nyata.’

Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak datang membawa empat saksi? Oleh karena mereka tidak membawa saksi-saksi, maka mereka itu dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang berdusta.

Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, disebabkan oleh pembicaraan kamu tentang hal itu (berita bohong itu).

(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.

Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya, ‘Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.’

Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang beriman, dan Allah menjelaskan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

__________

Dikisahkan kembali berdasarkan buku karya Martin Lings, Muhammad: Kisah Hidup Rasulullah Berdasarkan Sumber Klasik, 2007.

Pengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di MAN 2 Kabupaten Mojokerto. Sempat menulis beberapa buku antara lain buku perjalanan, pendidikan, cerpen, puisi, dan cerita bergambar. Selain aktif sebagai Pengurus Bidang Kreatif di LP Ma’arif NU, juga masih sering menulis di berbagai media dengan tema Islam, Parenting, dan Pendidikan.