Nyai Ageng Pinatih dan Perdagangan Global

Lukisan Pelabuhan Gresik di masa kolonial. Dalam bahasa Belanda, nama Gresik ditulis "Grissee".

Pelabuhan merupakan salah satu ikon kota Gresik. Di sinilah banyak tercipta sejarah kota Gresik yang pada zaman dahulu menjadi salah satu pusat perdagangan dunia yang cukup terkenal. Ada beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa pelabuhan ini sudah menjadi pusat perdagangan pada era Mataram Kuno, yang merupakan kelanjutan dari era Medang Kamulan.

Wilayah Gresik dan Tuban menjadi penting di sekitar abad X hingga abad XI. Ia menggantikan posisi Pragota yang belakangan lebih dikenal dengan nama Semarang. Pelabuhan Gresik juga berfungsi sebagai penopang pelabuhan Hitu yang terletak di Jepara sebagai pelabuhan utama ekspor-impor Kerajaan Mataram di era itu.

Pada masa itu, Kerajaan Mataram Kuno merupakan pemain global komoditas beras, kelapa, dan pinang. Pada abad ke-8 hingga abad ke-10 M, kerajaan yang nama aslinya Mdang i Bhumi Mataram ini merupakan sentra rice bowl industry. Hal ini dimungkinka karena Raja-raja Mataram mempunyai keahlian dalam mengelola lumbung padi serta jalur distribusinya, termasuk menguasai jalur laut dari Teluk Bengal hingga Laut Jawa, yang merupakan bagian dari jalur perdagangan utama di Samudera Hindia.

Posisi Mataram sebagai pemain global beras ini dilajankan melalui beberapa pelabuhan yang dimilikinya, termasuk di Gresik. Salah satu mitra dagang global utama Mataram adalah Kekaisaran China, dari berbagai dinasti. Diawali pada era Dinasti Song, ketika China mulai mempelajari kultivasi padi, hingga era modern, khususnya di Kawasan Asia Pasifik. Namun kini, pemeran utama rice bowl industry global dipegang oleh China.

Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan perdagangan di Gresik pada masa lampau adalah Nyai Ageng Pinatih, seorang saudagar kaya yang menguasai proses perdagangan di pelabuhan Gresik. Nyai Ageng Pinatih adalah Syahbandar perempuan pertama di Nusantara, yang dengan kedudukannya itu bertanggungjawab atas kebijakan cukai dan pengaturan perdagangan dengan kapal-kapal asing.

Nyai Ageng Pinatih memiliki garis kekerabatan dengan wangsa Majapahit dari Raja Lumajang, Arya Pinatih. Ia adalah ibu angkat Sunan Giri yang di kemudian hari menjadi murid Sunan Ampel yang juga merupakan kerabat Nyai Ageng Pinatih. Bersama Maulana Malik Ibrahim, Syahbandar Gresik sebelum Nyai Ageng Pinatih, Sunan Ampel dan Sunan Giri dikenal sebagai anggota Walisanga, sembilan tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa. Nyai Ageng Pinatih sangat menyadari bahwa perdagangan dan ekonomi merupakan sarana dakwah yang cukup efektif. Dan hal itu terbukti dengan tersebarnya Islam secara masif dan damai di wilayah Jawa, dengan Gresik sebagai pintu masuk utamanya. Mungkin itulah salah satu yang membuat kota Gresik saat ini dikenal dengan sebutan kota santri.

Kemajuan pelabuhan Gresik dimulai sekitar abad ke-16 M, di mana pada saat itu pelabuhan Gresik mampu menggeser peran Pelabuhan Tuban. Hal ini terlihat dari banyaknya kapal-kapal asing yang lebih tertarik untuk mendarat di Gresik daripada di Tuban. Pada awal abad ke-17 M, pelabuhan Gresik tetap berperan sebagai pelabuhan besar dan utama di antara pelabuhan-pelabuhan lain di sekitarnya. Namun kebesaran pelabuhan Gresik tidak seperti sebelumnya, karena pada masa ini politik ekspansi Kerajaan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Sultan Agung sudah mengarah ke Gresik.

Pada tahun 1636 M, dengan bantuan Pangeran Pekik dari Surabaya, Gresik berhasil ditaklukkan oleh Sultan Agung. Pasca itu kedudukan Gresik kemudian ditempatkan di bawah kekuasaan Surabaya. Pada tahun 1625 M, Gresik mempunyai dua pelabuhan yang dikelola oleh dua orang Syahbandar yang diangkat oleh penguasa Surabaya. Syahbandar utama berkedudukan di Gresik, sedangkan di Jaratan ditempatkan seorang Syahbandar muda. Syahbandar muda di Jaratan adalah seorang keturunan Cina yang mempunyai julukan Ence Muda. Istrinya adalah anak dari seorang Cina juga bernama Beng-Kong, pemimpin penduduk Betawi saat itu.

Gresik sudah menjadi salah satu pelabuhan utama dan kota dagang yang cukup penting sejak abad ke-14 M, serta menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dari Maluku menuju Sumatra dan daratan Asia, termasuk India dan Persia. Hal ini berlanjut hingga era VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Walaupun ada sedikit kemunduran, sampai awal abad ke-17 M di pelabuhan Gresik masih nampak adanya aktifitas produksi kapal bermuatan 10 hingga 100 ton, yang digunakan untuk berlayar ke Maluku dan sekitarnya di era pedagang-pedagang Eropa dengan rempah-rempah sebagai komoditas utamanya mulai menguasai Nusantara.

Salah satu layanan pelabuhan yang dikembangkan oleh Nyai Ageng Pinatih hingga Pelabuhan Gresik menjadi pilihan sandar para pedagang global adalah fasilitas perbaikan kapal yang sangat dibutuhkan oleh para pedagang dari luar. Jasa inilah yang menjadi cikal bakal keahlian dan ketrampilan masyarakat dalam industri perkapalan di wilayah Gresik, Tuban, dan Surabaya, yang kemudian menjadi lokasi industri perkapalan nasional Indonesia modern.

Pelayaran menuju pulau rempah-rempah Maluku masih menjadi prioritas utama. Para pedagang Gresik dan Banda mengadakan hubungan pelayaran dan perdagangan dengan baik. Dalam hubungannya dengan Maluku, pelabuhan Gresik sangat berperan penting, karena di sinilah orang-orang Ternate dan Tidore berlabuh, selain untuk berdagang juga pergi ke pesantren Giri untuk memperdalam ilmu agama Islam. Dan di jalur laut kepulauan ini pula jalur logistik Indonesia bergerak hingga hari ini. Sebagai jalur penghubung antara Kepulauan Sunda Kecil, Kepulauan Maluku, serta Sulawesi bagian tenggara. Alur Barang dan Jasa riil dari kepulauan-kepulauan Indonesia yang data perdagangan secara rutin dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Pada tahun 1612 M, Giri sudah kehilangan wibawanya menyusul pergantian kekuasaan dari Sunan Prapen kepada penguasa berikutnya yaitu Panembahan Kawisguwa pada tahun 1605 M. Pengganti Sunan Prapen tidak lagi bergelar “Sunan” melainkan “Panembahan”. Dari sini terlihat bahwa kekuasaan kharismatik akan memperkuat kekuasaan politik, ekonomi, dan sosial, bila seseorang mampu menyandangnya. Namun suatu gelar atau jabatan akan terasa berat dijalankan bagi orang yang tidak kompeten dan hanya menggunakannya untuk kepentingan sendiri dan kroni-kroninya. Sejarah Nusantara sudah banyak mencatatnya, dari masa kerajaan hingga era pemerintahan Orde Baru di mana bangsa Indonesia saat ini mewarisi dampaknya.

* * *

Di tahun 2021 ini, World Investing Report dari UNCTAD (United Nations on Conference & Trade Development) mengambil tajuk “Investing in Sustainable Recovery” (Berinvestasi dalam Pemulihan Berkelanjutan). Dalam laporan itu dijelaskan tentang arah investasi global menuju kawasan-kawasan perdagangan kuno dari berbagai zaman, yang kemudian disarankan untuk dikelola dalam bentuk kawasan ekonomi khusus sebagai bentuk mitigasi risiko. Tentu yang dimaksud di situ bukan hanya bentuk kawasan seperti bangunan pelabuhan, bandara,dan  jalan raya, serta penawaran kebijakan insentif fiskal belaka, melainkan juga—dan ini yang lebih penting–bagaimana manajerialnya ke depan yang menjadi daya saing untuk berintegrasi pada alur perdagangan internasional yang disebut dengan Global Value Chain (Rantai Nilai Global).

Maka tidak heran jika kemudian UNESCO menasbihkan 34 wilayah baru dalam Daftar Warisan Dunia (World Heritage List) pada Sidang Umumnya yang ke-44 pekan ini. Daftar tersebut terdiri dari 29 kota dagang kuno dan 5 kejaiban alam (nature wonder). Di antara 29 kota dagang kuno itu termasuk kota perdagangan era Kekaisaran Romawi di sepanjang Sungai Danube yang melintasi Austria, Jerman, dan Slovakia sepanjang 600 km. Selain itu termasuk juga jalur kereta api Iran yang merupakan jalur kereta migas yang sebelumnya milik Anglo Persian Oil Company yang kini kita kenal dengan nama British Petroleum (BP) yang mengendalikan brent crude minyak dunia.

Yang paling banyak dalam daftar World Heritage adalah Kota-kota di China yang sebarannya meliputi beberapa provinsi di China yang merupakan Pusat perdagangan maritim dinasti Song-Yuan, dengan titik Quonzhou (Global hub ancient maritime trade) dan Hubei dengan Wuhan sebagai Ancient Innovation Center. Nah, sampai di sini nama Wuhan sudah tidak asing lagi, bukan? Wilayah perdagangan Dinasti Song-Yuan kini menjadi lokasi pengembangan Greater Bay Area Project dari pemerintah China dengan salah satu aglomerasinya berada di kawasan yang diakui sebagai 9 dash line (garis putus-putus) yang semuanya memiliki sejarah panjang perdagangan dengan pelabuhan-pelabuhan Nusantara, termasuk Gresik.

Sungguh menarik, bahwa dalam proses integrasi kepulauan Nusantara dengan jalur perdagangan internasional, ada peran besar seorang perempuan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Modernisasi pelabuhan Gresik pada tahun 1458 M adalah jejak sejarahnya. Sayangnya, inisiasi yang dilakukan oleh oleh Nyai Ageng Pinatih dalam kesyahbandaran itu, pada tahun 1600-an kemudian meredup justru ketika pelabuhan Gresik ditangani oleh dua orang Syahbandar.

Peneliti di bidang kebijakan publik dengan pengalaman belasan tahun. Beberapa kali menjadi delegasi Indonesia di berbagai forum internasional. Saat ini aktif di Pusat Studi Arunika Cipta Persada dan sering bekerja dengan berbagai lembaga baik pemerintah maupun non-pemerintah.