Tak Ada yang Mau Jadi PKI

Salah satu adegan dalam film "Pengkhianatan G30S/PKI".

Barangkali, ini karya sinematografi paling dahsyat di Indonesia untuk urusan dampaknya. Tahun 1984, Orde Baru dengan sukses merilis film “Pengkhianatan G30S/PKI”. Film yang dikomandani salah satu sutradara kondang pada zamannya, Arifin C. Noer ini meledak. Luar biasa.

Film digubah dari naskah karya salah seorang think-tank Orde Baru, Brigjen TNI Prof. Dr. Raden Panji Nugroho Noto Susanto, yang akhirnya jadi Mendikbud itu dijadikan skenario Arifin C. Noer. Konon menghabiskan dana Rp 800 juta, dan ngetop berat. Laris manis di mana-mana, di seantero penjuru negeri.

Bagaimana tidak laris, film yang diproduseri G. Dwipayana, dan dibintangi Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan Syubah Asa dkk. ini diwajibkan untuk ditonton di seluruh penjuru Indonesia. Setelah tak lagi diputar di bioskop, tetap saja diputar di televisi setiap 30 September. Berpuluh tahun.

Sepertinya, salah satu syarat untuk menjadi Warga Negara Indonesia yang baik dan benar saat Orde Baru itu adalah harus menonton film ini. Menontonnya pun harus berulang-ulang pula. Tak cukup sekali, dua kali saja.

Dari usia anak-anak, sampai anak-anak saya sudah besar pun masih tayang di televisi.  Sampai hari ini,  dan besok pun saya masih hafal bunyi ilustrasi musiknya yang dominan keyboard terkesan horor itu.

Saya masih kelas 5 Sekolah Dasar (SD) waktu itu. Satu sekolah wajib nonton film ini di bioskop kecamatan, di Kelet, Keling, Jepara. Dengan berombongan, naik angkutan Isuzu, dari sekolah. Pakai seragam sekolah pula.

Seumur-umur, nonton bioskop paling meriah ramai-ramai ya waktu SD itu. Bagaimana tidak nyaman, bisa menonton satu kelas bersamaan. Boleh pula membawa jajan dan minuman. Saya membawa minuman temu lawak, dibungkus plastik, waktu itu.

Seingat saya, durasinya empat jam, yang asli. Termasuk sejumlah kekejaman PKI juga bisa dinikmati sampai khatam, dalam adegannya. Lama banget.

Film itu seperti magnet yang membawa benak pikiran ke alam kekaguman terhadap sosok superhero nasional. Superheronya siapa? Siapa lagi kalau bukan Soeharto, yang waktu itu, tahun 1984 adalah presiden.

Habis menonton, namanya anak-anak, sebagian ada yang ingin memainkan adegan film itu. Meniru. Pakai kayu, jadi senapan, mencoba memeragakan sejumlah adegan yang melekat di otak. Ditirukan.

Supardi, nama teman saya, sangat antusias ingin menirukan adegan film itu, saat istirahat sekolah, keesokannya. “Ayo, main film PKI-PKI-an, yuk,” katanya.

Akhirnya ada beberapa kawan yang tertarik. Cowok semua. Tidak ada ceweknya. Ada yang pengin jadi Soeharto, jadi Bung Karno, jadi Ahmad Yani dan sebagainya.

Tak ada yang jadi Ade Irma Nasution, misalnya. Karena tidak ada ceweknya. Waktu ada kawan cewek lewat diajak main pun tidak tertarik ikut main film PKI-PKI-an. Akhirnya serba cowok.

Tapi, saat pembagian peran, tidak ada yang mau jadi PKI. Akhirnya si Pardi itu meminta saya jadi PKI. “Kamu jadi Untung saja. Tolonglah,” ujarnya. “Sekalian jadi Aidit, ya,” imbuhnya.

Sialan. Saya menolak tentu saja. Pardi yang paling antusias dengan curangnya dia langsung memilih dirinya memerankan Soeharto.

Akhirnya saya menyerah. Saya dipaksa didapuk jadi Letkol Untung. Sambil menirukan dialog-dialognya. Yang masih diingat, tentu saja.

Saya terpaksa jadi PKI. Jadi Untung, sekaligus merangkap jadi Aidit. Adegannya juga sepotong, sepotong, sesukanya. Sambil ketawa-ketawa. Bukan adegan serius dalam drama yang tampil di sekolah. Cuma mengisi waktu saat istirahat saja.

Film itu telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Orde Baru. Ordenya seorang Soeharto. Yang selalu terngiang setiap bulan September, selama puluhan tahun sejak 1984.

Film tentang pengkhianatan atau pemberontakan yang satu ini sangat masif diperkenalkan hingga era milenial selalu jadi trending topic di bulan September. Mengalahkan lagu “September Ceria”-nya Vina Panduwinata.

Dan, tidak pernah ada film pengkhianatan yang serupa. Macam film “Pengkhianatan DI/TII”, misalnya. Atau film “Pengkhianatan PRRI/Permesta”. Padahal sama-sama memberontak terhadap negara. Dan, itu fakta.

Sepertinya kita tidak pernah didewasakan untuk menilai “hantu-hantu” masa lalu yang lain semacam itu. Karena tidak ada film pembanding dari kepentingan atau kelompok politik yang beragam dalam sejarah masa lalu NKRI.

Padahal ini tak kalah penting. Agar kita juga paham, bahwa di Zaman Bung Karno juga sudah ada kelompok dengan tabiat takfiri. Mengkafirkan orang atau kelompok lain sesama muslim, yang tidak sejalan dengan kelompoknya.

Tahun 1952 misalnya, saat  NU menyatakan mundur dari Partai Masyumi dan membentuk Partai NU. Oleh sebagian kalangan Masyumi NU dikecam sebagai pendukung pemerintahan yang kafir.

Hantu yang masih abadi di bulan September ini memang luar biasa awetnya. Generasi yang terlahir pasca 1965 pun masuk dalam atmosfer yang membuat memori otak menghafalkannya.

Almarhum bapak saya semasa hidup pernah bercerita, bahwa dulu, di Pecinan Jepara, usai Gestapu/Gestok 1965, pernah ada kejadian pencopetan. Si copet itu biar gampang ditangkap, diteriaki: “Tangkap dia! PKI dia!”

Tak butuh waktu lama, si copet pun menyerah. “Saya copet. Saya bukan PKI,” ujarnya. Dia menyerah pasrah. Tak menerima disebut PKI. Karena kalau nekat lari, tertangkap dia dikira PKI beneran, habis dia. Bisa dicincang, dilumat orang beramai-ramai.

Nah, dalam perkembangannya, setiap 30 September sampai puluhan tahun dari tahun 1984 silam itu, saya jadi selalu ingat Supardi. Ingat rayuannya untuk menyuruh menjadi PKI. Dan, tentunya selalu ingat: tidak ada orang yang mau jadi PKI. Dahsyat sekali, bukan?

 

 

Jurnalis dan kolumnis asal Jepara, tinggal di Bali.