Keinginan yang Belum Tercapai

Akhir ’80-an, tak lama sesudah Muktamar NU ke-27, digelarlah Muktamar Jam’iyah Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyah di Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak. Panitia memperoleh sumbangan dana dari perusahaan rokok Djarum dengan akad konsesi ruang promosi. Maka Djarum pun mendirikan tenda-tenda promosi di berbagai sudut arena Muktamar dengan menempatkan gadis-gadis muda-remaja-cantik-molek sebagai penjaga tenda-tenda itu.

Terbuktilah bahwa ini bukan taktik promosi yang kontekstual. Tenda-tenda itu sepi pengunjung. Para peserta Muktamar yang terdiri atas mursyid-mursyid thoriqoh sudah pasti menjaga jarak demi muruah, sedangkan santri-santri pun tak berani iseng karena takut ketahuan kyainya.

Syahdan di antara peserta Muktamar adalah Kyai Miftah, seorang mursyid sepuh (80 tahun) dari Tegal, Jawa Tengah. Tak terduga suatu kali Mbah Kyai Miftah minta dituntun santrinya menghampiri perawan-perawan nggojos itu di salah satu tenda.

“Usia berapa, Pak Kyai?” gadis-gadis itu bertanya menggoda.

“Ah… baru jalan enam puluh…”

Tawa renyah berderai merdu.

“Pak Kyai”, seorang gadis lebih berani lagi, “setelah sampai usia ini, apakah masih ada keinginan Pak Kyai yang belum terpenuhi?”

Mbah Miftah tercenung sejenak.

“Ada”, jawabnya.

“Apa, Pak Kyai?”

Mbah Miftah memasang mimik balita,

“Kepingin kawin sama lulusan SMP…”, suaranya lugu, “kalau Fatayat-Muslimat… aku sudah tidak syahwat…”

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).