Tujuannya Mayit

Abul Ulaa alias Asy’ab nama aslinya Syu’aib bin Jubair, dulunya budak milik Aisyah binti Utsman bin Affan, kemudian dimerdekakan. Ia lantas hidup bergantung pada pemberian atau bersiasat nebeng makanan orang, sampai-sampai dijadikan “ikon” ketamakan. Di antara ungkapan bahasa Arab yang populer untuk mencela orang tamak adalah:

أطمع من أشعب

“Lebih tamak dari Asy’ab”.

Tamak adalah watak cenderung tergiur pada apa yang ada di tangan orang lain.

Asy’ab memang teramat miskin. Dan tidak berkurang kemiskinannya hingga beristri dan beranak. Suatu hari ia sedang berjalan-jalan dengan anaknya ketika bertemu dengan serombongan orang mengusung jenazah ke kuburan.

“Lihatlah jenazah itu, Nak!” Asy’ab ingin memanfaatkan momentum untuk mendidik anaknya, “mereka membawanya ke rumah yang tak berpintu, tanpa tempat tidur, tanpa makanan, tak ada roti maupun air”.

“Ya ampun, Abah!” anaknya berseru kaget, “jadi mereka akan membawanya ke rumah kita?”

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).