Terlalu Panjang

Di sebuah desa santri, ada lurah baru yang kebetulan “kurang santri”. Pak Lurah nggak pernah ngaji atau mondok. Soal agama ia pelajari sendiri dari buku-buku terjemahan. Dalam sebuah acara pengajian, Pak Lurah memberi kata sambutan,

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, setiap amal harus kita kerjakan dengan ihlas. Seperti doa yang selalu kita baca setiap salat: INNAA SHALATIWAA … NUSUKIWAAA ….

Hadirin serentak tertawa, bertepuk tangan dan bersuit-suit. Dari barisan belakang ada yang teriak,

“Iftitah bahasa Jepang!”

Tapi teriakan itu tenggelam di tengah riuh-rendah sorakan. Pak Lurah tak mendengarnya, atau tak mengerti maksudnya. Ia teruskan saja pidatonya, hingga sampai ke dalil andalan yang telah disiapkannya,

“Kita harus ingat Firman Allah: INNAA KHALAQNAAKUM MIN DZAKAAAARIN WA UNTSAA ….

Kang Parji, yang belum lama boyong dari pondok, tidak tahan mendengarnya dan langsung berdiri terus maju ke depan,

“Interupsi, Pak Lurah!” teriaknya keras-keras, “itu tadi dzakarnya kepanjangan!”

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).