Diplomasi Ketawa: Rompi (Bukan Kopyah) Anti Peluru

Pengamanan Presiden adalah masalah sensitif. Dalam urusan ini, kompromi itu haram. Kepentingan umum, bahkan “citra”, bila perlu harus dikorbankan. Beberapa presiden terkenal sampai merancang kiat anah-aneh demi keamanan pribadinya. Saddam Hussein, misalnya, merekrut sejumlah orang yang punya tampang mirip dengan dirinya yang kemudian diperankan sebagai decoy, pengalih perhatian, untuk membuat bingung siapa pun yang mengincar nyawanya.

Lain lagi Presiden Abdurrahman Wahid. Dalam soal keamanan pribadi, presiden kebanggaan kita ini adalah presiden paling sembarangan di seluruh dunia sepanjang sejarah peradaban modern. Dalam kunjungan ke Aceh yang waktu itu masih gawat, penanggung jawab keamanan dari TNI mendesak Presiden untuk mengenakan rompi anti peluru. Setia pada norma protokoler, Presiden pun menurut. Tapi, “manusia bebas seperti Gus Dur, tak betah diatur-atur,” kata Kang Mohamad Sobary. Ketika berpidato di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, beliau malah “mengadu” kepada ribuan massa rakyat yang hadir,

“Saya ini disuruh-suruh pakai rompi anti peluru,” kata Presiden, “saya sih nurut saja, karena tuntutan protokoler dan menghargai maksud baik teman-teman dari TNI. Jadi, dibalik baju batik ini ada rompi anti peluru ….”

“Wadhuh … gawat ini …,” seorang perwira Paspampres membisiki temannya.

“Kenapa?”

“Itu tadi ‘kan sama saja bilang: kalau mau nembak, incar kepala saya!”

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).