Banser Handal

Kyai Mustofa Bisri dikawal Banser pada suatu acara.

Banser adalah satuan pengamanan yang handal. Mereka sigap dan terlatih. Tahu benar apa yang harus dilakukan menghadapi berbagai macam keadaan.

Di sebuah lapangan di Sumenep, Madura, malam itu, ribuan orang mengadiri ceramah pengajian Kyai Mustofa Bisri–atau yang baisa dipanggil Gus Mus. Begitu acara pengajian selesai, hadirin langsung menyerbu deretan kursi utama. Gus Mus menjadi obyek rebutan salaman. Sejak menyambut uluran tangan pertama, Gus Mus merasa agak jengah karena ternyata ada amplopnya. Tapi tangan kedua juga ada. Tangan ketiga, keempat, kelima … semua berlapis amplop terlipat. Nyaris seluruh pengunjung merangsek berusaha mendekati Gus Mus. Mereka sampai saling dorong, seolah kuatir tidak kebagian. Alangkah repotnya Gus Mus melayani mereka.

Satu regu Banser datang dan mengambil alih situasi. Entah apa yang mereka teriakkan, yang jelas orang-orang jadi mundur. Kalau ada yang ngeyel, Banser-banser itu tak segan-segan mendorongnya. Dengan sigap, Gus Mus diapit dan dibawa menyingkir, langsung masuk mobil yang telah siap-sedia, dan melesat pergi serta-merta.

Gus Mus mengamati dari balik jendela. Massa belum beringsut dari lapangan itu. Mereka menguntapkan mobil Gus Mus sambil melambai-lambaikan tangan. Gus Mus meraba saku bajunya yang tidak terlalu menggelembung. Baru beberapa lembar amplop terselip di dalamnya.

“Wah … nasibku …,” Gus Mus menyesali diri, “gara-gara Banser, aku tidak jadi kaya ….”

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).