Puisi: Sinetron Ikatan Pandemi

Gadis Bugis yang Kunanti

Kau menghias mimpi dalam malam-malamku
Menghibur di setiap senjaku
Kau hadir dalam bayang, untuk meyakinku merajut harap
Kau hadir di kala aku jatuh, walau hanya dalam bisik
Gadis bugis nan manis, tatapanmu masih sama sejak kita merajut janji di temaram malam itu

Aku masih sama, lelaki melayu nan setia berjuang mengumpul sen untuk pernikahan kita
Adat dan suku boleh saja berbeda namun kita bersatu dalam iman
Biarlah adat memisahkan, tapi rasa kita menyatu dalam keyakinan
Aku sedikit bercerita padamu di malam itu, walau hanya dalam bayang
Aku segera ingin pegang tanganmu, tapi kau tolak dengan dalil Tuhan
Aku ingin mencumbumu, tapi kau kata bahwa citamu belum sampai

Biarlah perasaan ini ku korbankan untuk citamu mengejar mimpi
Biarlah kesabaran ini menjadi cerita indah dalam doa-doaku
Kita berbeda pulau, tapi bersatu dalam perasaan
Banyak pemuda di sana nan kaya dan lebih menawan
Tapi kau masih percaya pada bujang melayu, pembual mimpi nan jauh di seberang sini
Semoga kita menyatu dalam pengharapan, dan berkumpul dalam kesucian

Borneo, 25 Juli 2021

* * *

 

Kasta Pemisah Kita

Rasa yang salah, atau imanku nan rendah
Aku jatuh padamu sejak pertama mendengar namamu
Hatiku terkulai tepat di ujung senja
Aku kelu menyebut namamu dihadapan Tuhan kita
Sajadahku menjadi saksi bahwa aku pernah bergulat dengan takdir dan doa

Kau anak doktor kampus ternama
Aku hanya anak petani di sudut Borneo
Kutatap lekat gelar ayahmu, aku lunglai
Kurenungi kebesaran nama keluargamu, aku rapuh
Semesta seakan tak adil, menitipkan rasa ini padaku seorang pemuda miskin

Kadang aku bertanya pada semesta, mungkinkah kugapai hatimu
Banyak kisah ayat tuhan tentang kesetaraan, tapi tak juga menguatkan yakinku padamu
Dalam diam ku titip sajak rindu padamu, walau mungkin tak terdengar oleh ayahmu
Aku ingin meminangmu, tapi rupiah masih kurang dari cukup menggelar pesta kita
Biarlah semua ini ku kubur sejenak, sambil memahat nasib di sepertiga malam
Biarlah kita bersatu dalam takdir nan kelam

Borneo, 25 Juli 2021

* * *

 

Sinetron Ikatan Pandemi

Perih kami menyaksikan sinetron ikatan pandemi
Kami muak dengan adegan yang dipertontonkan para petinggi negeri
Kami lelah dengan segala kebijakan yang meresahkan perut anak kami

Kami bodoh dalam politik
Kami tak mengerti kebijakan pandemi
Yang kami tahu hanya satu, perut anak kami bisa terisi
Yang kami tahu, gerobak asongan kami tak di sita atas dasar rajia

Kami tahu pandemi ini bahaya, tapi lebih bahaya lagi anak kami mati diujung palu berdasi
Kami tak seperti bapak menteri yang sempat duduk didepan televisi
Kami berjibaku diantara matahari dan sesuap nasi

Bantuan sosial  yang kami nanti tak sedikit tertelan oleh dia tersangka korupsi
Kami terlalu bosan dengan adegan pandemi yang tak usai
Kami dilarang mengumpulkan sen, tapi di bandara ramai pelancong datang
Entah apa yang mereka pikirkan, yang kami minta hanya satu yakni keadilan
Apalagi yang kami bisa harapkan, bila menteri mengusulkan komedi menjadi hiburan
Ini bukan tentang tawa yang kami butuhkan, tetapi tentang nyawa
Kami tak perlu dibuat tertawa, yang kami mau anda bekerja semestinya

Borneo, 25 Juli 2021

Lahir 24 tahun silam, bercita-cita menjadi penulis dan guru besar. Pernah meraih Juara II Cipta Cerpen dan Juara I Cipta Puisi Tingkat Kabupaten, serta Juara I Oliempiade Penelitian Siswa Indonesia Tingkat Provinsi. Saat ini menjadi pengajar di Sekolah Dasar Eka Tjipta Foundation region Kalimantan Tengah.