Yang Menunggu di Sorga

Mbah Kyai Ali Ma’shum rahimahullah gemar dipijat. Beliau kerap kali memanggil santri untuk memijat beliau di waktu senggang.

Mbah Ali lebih menyukai pijatan yang kuat. Pernah suatu malam saya dipanggil untuk memijat, kentara sekali beliau merasa kurang nyaman–waktu itu saya masih anak kelas 2 SMP berbadan kerempeng. Baru sebentar saya memijat, beliau sudah minta ganti acara,

“Digejlugi wae, Cung!” Maksudnya, saya disuruh memukul-mukul kaki beliau dengan kepalan tangan. Saya taat. Tapi itu pun tampaknya tidak memuaskan.

“Wis. Idak-idak wae!” Saya disuruh menginjak-injak kaki beliau. Sama saja. Berat badan saya yang cuma sekitar 35 kilo tak ada artinya.

“Sudah! Sudah! Sana panggilkan Karyono!”

Karyono (almarhum) memang paling disukai, karena tenaganya kuat. Sungguh sering ia dipanggil, hampir tiap hari. Dan setiap kali memijat, tidak pernah sebentar.

Suatu kali sehabis memijat Mbah Ali, Karyono kembali ke gothakan dengan muka capek,

“Aku nanti enaknya masuk sorga apa enggak ya …?”

Saya heran,

“Memangnya kenapa, Kar?”

“Jangan-jangan di sana nanti ketemu Mbah Ali terus disuruh mijet lagi!”

Mudah-mudahan Karyono mendapat tempat di sorga dan bertemu Mbah Ali dan orang-orang shalih lainnya dan bertemu kita semua … al Fatihah ….

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).