Tragedi Primbon

Di desa Tanjungsari, Rembang, banyak kyai. Maka jadwal khotbah Jum’at dipergilirkan di antara mereka. Kyai Khozin Allah yarham, yang paling muda dan sebagai nadhir masjid, menjadi “kyai piket” yang senantiasa stand-by, siap menggantikan kalau-kalau ada khatib yang berhalangan pada jadwalnya.

Di bagian atas mimbar kuno dari kayu berbentuk cungkup, terdapat semacam palung tempat menyimpan mushaf dan kitab primbon kumpulan khotbah. Kebanyakan para khatib tidak menyiapkan teks khotbah dari rumah dan tinggal memilih salah satu naskah khotbah yang ada dalam primbon itu untuk dibacakan.

Jumat itu, Mbah Kardi, lurah dongkol (mantan lurah) yang masih terhitung pamannya Kyai Khozin, mendapat giliran. Ia segera membuka salam setelah bilal menyerahkan tongkat. Ini soal rutin. Sementara bilal menyuarakan adzan, Mbah Kardi menggerayangi palung di atas mimbar, mencari-cari primbon kumpulan khotbah yang biasa disimpan di situ. Apa lacur, hingga adzan selesai, primbon itu tak juga ia temukan. Mbah Kardi berjinjit-jinjit, berusaha melongok-longok ke dalam palung yang agak lebih tinggi sedikit di atas kepalanya.

Adzan sudah habis. Jamaah gelisah dan bertanya-tanya. Mbah Kardi berkeringat … primbon itu tak ada! Entah siapa yang memindahkannya.

Putus asa, Mbah Kardi berbalik dan menghampiri Kyai Khozin yang duduk di shaf terdepan. Ia sodorkan tongkat khatib kepada keponakannya itu,

“Kamu saja, Zin!”

_________

Catatan:
Belakangan, berdasarkan hasil bahtsul masail PCNU Rembang, sholat Jumat hari itu dinyatakan tidak sah dan seluruh jamaah diwajibkan i’adah.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).