Salah Paham Bahasa Arab dan Bahasa Arab Bengkok

Santri kendil terong gosong tahunya bahasa Arab ala kitab kuning yang kuno. Padahal perkembangan bahasa Arab sendiri telah amat jauh. Bisa-bisa santri kendil salah paham dengan bahasa Arab masa kini.

Misalnya, “es krim” ditulis Arab jadi:

عيش كر يم

Terjemahan santri kendil: “hidup mulia”.

Tulisan pada rambu-rambu lalu-lintas untuk jalan satu arah:

ممنوع الدخول

Ad dukhul” di kitab-kitab kuning artinya “senggama”. Santri kendil yang membaca rambu jalan itu mungkin berpikir, “Masak bikin tanda larangan dukhul di sini? Siapa sih yang mau dukhul di jalanan?”

Di bis umum SAPTCO (Saudi Arabian Public Transportation Company) ada tulisan Arab besar:

النقل الجماعي

Kalau santri kendil salah baca sehingga huruf “jim”-nya dikasrah, apa artinya?

Di dalam bis antar-kota biasanya ada papan pengumuman dengan tulisan begini:

ممنوع إنزال كل راكب في الطر يق

Terjemahan santri kendil: “Dilarang, ejakulasi setiap penumpang di jalan”

 
Sayid Umar Al Mutahar:

Wa ha ha ha ana ketawa sampai maul aini netes netes, lalu ana meraih miknasatul yad dan, ha ha lalu ana minum gahwa jahannam ha ha, tu santri kendel, Gus, bukan kendil atau mungkin santri Kendal.

 
Yahya Cholil Staquf:

Bergelut dengan pelajaran agama di pesantren tak lepas dari bahasa Arab. Santri-santri yang kreatif kemudian menciptakan istilah-istilah bahasa Arab semau gue, yang orang Arab sendiri pasti tidak paham. Istilah “Halal bi Halal”, misalnya termasuk bahasa Arab bengkok yang tak dikenal orang Arab. Saya pernah mendapat kartu lebaran dari seorang teman dengan tulisan seperti ini:

اذا موجود خطاء خطاء جميل انا مقصود او لا انا مقصود انا اطلب عفوا كثيرا

Mula-mula saya bingung, tapi setelah merenung-renung akhirnya saya dapat mengira-ira artinya:

“Jika ada kesalahan-kesalahan baik saya maksudkan (sengaja) atau tidak saya maksudkan saya minta maaf yang banyak.”

Istilah bengkok lain yang cukup terkenal adalah:

الذي فيه

Artinya: seadanya.

 
Yahya Cholil Staquf:

“Dukhul riih” = masuk angin

“Nishful kibar” = setengah tua

“Mar-un kabiir” = orang tua

“Jaa-a kabiir” = moro tuwo

“Badzinjan mahruuq” = terong gosong

 
Muhammad Rizqi Romdhon:

Jemaah haji Indonesia pas liat passportnya baca

تأشيرة الدخول

Apa ini isyarat boleh jima pas haji??? bid’ah neh

 
Yahya Cholil Staquf:

Yang sudah dukhul disetempel…. hahahahaaaaa…..

 
Achmad Shampton Masduqie:

Di HM Lirboyo, diwajibkan jamaah subuh. Para pengurus kalo membangunkan santri-santri dengan berteriak: alladzi… alladzi ayo bangun… (biasanya alladzi dimaknani jawa kang…)

 
Yahya Cholil Staquf:

Budhe saya berbelanja di pasar Misfalah, Makkah. Untuk membeli ayam utuh tidaklah sulit, karena ada jagal ayam di pasar itu. Ia tinggal menunjuk saja sambil mengacungkan satu jari. Masalahnya, Budhe juga harus membeli telur, sedangkan ia tidak menemukan los atau warung (begalah) yang mendisplai telur. Maka, ia pun mengacung-acungkan ayam yang baru dibelinya kepada penjaga warung,

Bintu hadza! Bintu hadza!” katanya….(Maksudnya: anaknya ini!)

 
Syaikhul Islam Ali:

Seorang Kyai yang baru tiba dari menjalankan ibadah haji tertegun, karena disambut para santri dengan sepanduk bertuliskan:

Salamatun jaa’a min ardhith thahir ila ardhil maa’

Maksudnya: selamat datang dari tanah suci ke tanah air.

 
Munaaya Fauzuha:

Addiduu walaa tusarsiruu fainna al tasarsuro yundowwirul lambaa….

Uduto ae, ojo susuran, susuran iku nggarai lambe ndower….“

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).