Nahas Mulut

Hampir saja catatan ini diposting pagi hari tadi, tapi timbul kekhawatiran kalau-kalau isinya terlalu mencekam benak para pembaca sehingga berpotensi mengganggu kekhusyu’an sholat Jum’at. Maka postingnya ditunda dan baru dilaksanakan sekarang ini.

* * *

Mas Nawawi Shofwan adalah seorang sepupu jauh yang juga dzuriyah dari Kyai Ahmad Munawwir Krapyak, Yogya. Di usia 40-an, ia dirundung komplikasi berbagi penyakit hingga ambruk tak berdaya di ICU RS Sardjito, Yogya. Siang itu, setelah koma berhari-hari, ia tiba-tiba bangkit dan berteriak keras-keras,

Laa ilaaha illal … laah Muhammadur rasuulul … laah!

Lalu rebah lagi … dan wafat.

Kyai Jirjis Ali menangis,

“Tak kukira akhir hidupnya Wawie seindah itu ….”

Wawie, panggilan kesayangan untuk Nawawi.

Mas Wawie seorang seniman sarwa bakat: teater, melukis, dan sastra. Ia supel dan amat gemar bercanda. Bercakaplah dengannya lebih dari lima menit, engkau takkan bisa terus tanpa dicandainya. Aku sendiri tak pernah bisa menandai, kapan serius kapan tidaknya.

“Jadi, di tengah candanya sehari-hari, kalimat itu yang terus-terusan disebutnya dalam hati,” Kyai Jirjis bergumam penuh iri. “Bayangkan kalau yang ada di hati kita ini kalimat-kalimat lain, yang serba tak pantas, alangkah malunya kalau tiba-tiba keluar sendiri seperti itu ….”

Aku tak punya kata untuk menanggapi. Ujaran guruku itu benar belaka. Dalam keadaan normal saja, tak terhitung kali kita berucap tanpa sadar, hanya karena sudah terbiasa. Aku jadi deg-degan memikirkan kebiasaan mulut jelekku bersama teman-teman remajaku.

Di SMA-ku dulu, salat Jum’at digelar di aula sekolah. Almarhum Pak Rofiq, guru agamaku waktu itu, menugasi murid-murid berkhotbah di depan kelas. Barang siapa fasih bacaannya, ia tunjuk menjadi khatib dalam jum’atan yang sesungguhnya. Maka, terpilih jugalah Joni–tentu bukan nama sebenarnya– teman sekelasku.

Joni anak keluarga santri. Ia kos di dekat pondok Krapyak, tidak tinggal di dalam. Kadang-kadang–kalau sedang kumat baiknya–ia ikut nguping pengajiannya Mbah Ali. Ia pintar, tapi agak penggugup. Satu hal yang membuatku jerih, yaitu semangatnya yang menggebu-gebu untuk mengalahkanku dalam segala segi. Mentang-mentang bapaknya punya nama yang sama dengan kakekku: Bisri.

Karena Jum’at sebelumnya aku berkhotbah tanpa teks, Jum’at itu pun Joni tak mau membawa teks. Ia uraikan khotbahnya di luar kepala, dengan tema dan isi yang lebih bermutu dan dalil-dalil yang lebih jarang didengar orang. Terus terang, kehebatannya membuatku merasa sedikit lesu.

Tapi, entah kenapa, Joni kelihatan aneh saat mulai membaca do’a di khotbah kedua. Tangannya terangkat hanya sebelah saja, sementara yang satunya sibuk menggerayang ke arah bawah, rupanya ke saku celana, lalu ke saku-saku bajunya lalu ke bawah lagi …, demikian seterusnya hingga ia selang-selingkan antara kedua tangannya: satu menadah, satu menggerayang. Entah apa yang dicarinya. Hingga doanya habis, belum ketemu juga.

Cukup lama Joni mengosak-asik kujur tubuhnya sendiri macam itu, hingga aku bisa mengira-ngira ujung-pangkalnya. Rupa-rupanya, karena Jum’at kemarin aku menutup khotbah dengan seruan “‘Ibaadallaah, innallaaha ya’muru bil’adli wal ihsaan … dan seterusnya,” pastilah Joni tak mau mengakhiri khotbahnya tanpa seruan itu juga. Pastilah ia belum hafal bagian itu, lalu ia tulis di kertas untuk kerpekan. Pastilah kertas kerpekan itu yang kini dicari-carinya.

Joni masih sibuk sendiri. Jama’ah menunggu sambil menahan geli, tak berani ketawa karena takut kacau Jum’atannya.

Entah tadinya tertutup bungkus rokok atau apa, kertas itu ternyata ketemu di saku kiri bajunya. Joni mencabut kertas itu dengan mimik yang kentara jengkel sekali!

Lupa kalau mikropon berada tepat di bawah hidungnya, mulutnya pun berdesis,

“Asssuuu ….”

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).