Mbulet

Ini memang bisa bikin bingung. Kakekku bernama Bisri Mustofa (Bisri bin [Zainal] Mustofa). Anak keduanya, yaitu paman saya, diberi nama Mustofa, seperti nama ayahnya–anak pertama, yaitu ayah saya, diberi nama Cholil, seperti nama gurunya. Jadi: Mustofa [bin] Bisri. Sampai sekarang, nama kakek saya (Bisri Mustofa) masih cukup sering disebut-sebut orang. Apalagi sekarang ini namanya diabadikan sebagai nama jalan depan rumah saya: “Jalan KH. Bisri Mustofa”. Sementara itu, ada generasi baru yang kurang mengenalnya dan lebih mengenal anaknya: Mustofa Bisri. Akibatnya, terkadang terjadi kerancuan antara dua nama yang saling terbalik itu.

Ketika nenek saya (Nyai Bisri Mustofa) wafat sebulan yang lalu, konon terjadi kekacauan informasi di dunia twitter–saya sendiri tidak ngetwit, meskipun sudah punya akun. Banyak twitters mengira bahwa yang meninggal adalah istri paman saya (Nyai Mustofa Bisri) dan sejumlah teman menelepon saya untuk meminta kejelasan.

Beberapa waktu yang lalu, datang seorang ustadz dari Kuala Lumpur, Malaysia. Dia itu keturunan Jawa, dan sudah beberapa tahun beristiqamah mengajarkan “Al Ibriz”, kitab tafsir karya kakek saya (Kyai Bisri Mustofa), di berbagai masjid di Kuala Lumpur. Ia datang ke Rembang sengaja mencari paman saya (Kiyai Mustofa Bisri) dengan maksud minta ijazah kitab tersebut demi menyempurnakan barokah.

“Oh, silahkan,” kata paman saya, “sejak ditulis, kitab itu memang sudah diniati ijazah ilmu.”

Ustadz itu tampak lega.

“Ngomong-ngomong, kapan kitab ini selesai ditulis?” ia bertanya.

“Yaa… sekitar awal ’60-an.”

Si Ustadz terperangah. Kaget bukan kepalang. Ia pandangi paman saya lekat-lekat, seolah meneliti makhluk asing.

“Memangnya panjenengan sekarang usia berapa?”

“Enam puluh atau enam puluh satu.”

“Waduh!” Si Ustadz garuk-garuk kepala, “jadi waktu nulis Al Ibriz itu panjenengan baru usia berapa?”

Paman saya tertawa terbahak-bahak. Lalu menjelaskan kekeliruan si Ustadz yang telah menganggap Mustofa Bisri sebagai Bisri Mustofa.

Perlu diketahui, ini bukan potensi kekacauan yang paling buruk. Ketika dikaruniai anak lelaki (semata wayang, bungsu setelah enam orang anak perempuan berturut-turut), paman saya menamainya Bisri pula. Jadi: Bisri [bin] Mustofa bin Mustofa [bin] Bisri bin Bisri [bin] Mustofa. Bingung?

Sewaktu diajak ayahnya berziarah ke Palestina, adik sepupu saya itu tertahan berjam-jam di pos imigrasi Israel sampai harus minta bantuan kesana-kemari untuk “membebaskannya”. Belakangan baru disadari bahwa pihak Israel pusing membaca data identitas di paspornya:

Nama : Bisri Mustofa bin Mustofa Bisri
Alamat: Jalan KH. Bisri Mustofa

Saya bayangkan, petugas imigaris Israel berpikir seperti Bu Satomi Nurchasanah setiap kali beliau membaca dongengan saya: “Ini beneran atau guyon?”

Belakangan saya dapati keruwetan yang bahkan lebih parah lagi. Yaitu bahwa ada saja orang yang mengira saya ini adiknya Gus Mus. Maka, waktu nenek saya wafat, ada sejumlah SMS masuk ke HP saya yang isinya: “Turut berbela sungkawa atas meninggalnya ibunda Gus Mus dan Gus Yahya”. Padahal yang meninggal itu nenek saya saja, sedangkan ibu saya masih segar-bugar. Nasib….

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).