Mbah Bisri dan Mbah Ali tentang Mengarang Kitab

Mbah Bisri santrinya sedikit, karangannya banyak. Mbah Ali santrinya banyak, karangannya sedikit. Sampai-sampai, suatu ketika, Mbah Ali melahirkan rasa irinya,

“Sampeyan kok bisa bikin karangan sebanyak itu gimana caranya, Ndha?” kata beliau kepada Mbah Bisri, “aku kok sulit sekali. Padahal kalau ngalim-ngaliman belum tentu …. Yang jelas santriku jauh lebih banyak. Tapi aku kok nggak bisa ngarang sebanyak sampeyan. Baru mau noto niat saja susahnya minta ampun ….”

Mbah Bisri tertawa kecil,

“Ngarang, mikir ihlas … ya nggak jadi-jadi …,” beliau menanggapi.

“Lha memangnya sampeyan itu kalau ngarang niatnya apa?”

“Honor ….”

“Hah?”

“Iya. Mengingat-ingat honor itu membuatku bersemangat menyelesaikan karangan.”

“Jadi bukannya ihlas li nasyril ‘ilmi …? Wah!”

“Ya biar … wong mencarikan nafkah anak-istri itu juga wajib kok. Pahalanya belum tentu lebih sedikit …,” Mbah Bisri kalem. “Lagipula … nanti kalau karangan sudah jadi dan hendak diserahkan kepada penerbit, kita masih bisa noto niat … termasuk mengihlaskannya. Yang penting karangannya sudah jadi …. Daripada ihlas dulu tapi nggak jadi-jadi?”

* * *

Mbah Bisri menulis tentang topik apa saja tanpa pilih-pilih. Di antara karangannya adalah sebuah kitab kecil berjudul: Kitab Kêdutên. Kitab itu menguraikan makna firasat dari kêdutên menurut tempatnya, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mbah Ali pun memprotes kitab itu,

“Sampeyan ngarang kitab macam begini ini dasarnya apa?”

“Ada!” Mbah Bisri meyakinkan, “kusebutkan di kitab itu kok!”

“Mana?” Mbah Ali tak terima, “sudah kubaca dari awal sampai akhir, nggak ada sama sekali gitu …. Quran enggak, Hadits enggak, aqwaal ulama juga babar blas!

“Sampeyan kurang teliti bacanya ….”

“Suudah!”

Mbah Bisri pun meraih kitab itu dari tangan Mbah Ali,

“Coba lihat ini ….”

Mbah Bisri membuka halaman terakhir. Di ujung karangan itu, sesudah menguraikan makna firasat dari kêdutên di sekujur tubuh tanpa ada yang terlewatkan, Mbah Bisri menulis:

”Sedoyo wahu adhêdhasar kiro-kiro. Wallaahu a’lam bish showaab”.

(Semua itu berdasarkan kira-kira. Allah lebih tahu yang sebenarnya).

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).