Klasifikasi Martabat (Bukan Martabak)

Prof. Dr. Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia tahun 1985--1993.

Pondok Pesantren Tebuireng di bawah asuhan–pada waktu itu–K.H. Yusuf Hasyim rahimahullah, yang santrinya ribuan, mendapat kunjungan Menristek/Kepala BPPT–waktu itu–Prof. Dr. Fuad Hassan. Berkeliling mengamati kompleks bangunan pesantren dan memperoleh informasi tentang data santri membuat Pak Menteri amat terkesan. Dalam benak beliau terbentang begitu banyak kemungkinan bagi pengembangan pesantren Tebuireng khususnya dan dunia pesantren umumnya.

“Soal kecil dan sederhana saja,” beliau mencontohkan, “sanitasi! Sistem konstruksi untuk sanitasi di pesantren ini kalau dirancang ulang bisa membawa manfaat luar biasa. Bayangkan: dari kotoran sekian ribu orang, berapa besar energi biogas yang bisa dihasilkan? Belum lagi ampasnya yang punya nilai ekonomi tinggi, karena bisa dijual sebagai pupuk organik!”

Pak Ud–panggilan akrab untuk Kyai Yusuf Hasyim–mengernyitkan dahi.

“Kalau yang terakhir itu agak repot, Pak Menteri,” beliau menanggapi.

“Repot gimana?”

“Klasifikasi produknya itu lho! Kan susah memisahkan kotorannya kyai dari kotorannya santri … padahal martabatnya beda!”

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).