Ijazah Wirid Mancing

Diantara peristiwa Clash I dan II (invasi tentara Belanda ke Indonesia), 1947 dan 1949, Kyai Bisri beserta istri dan kedua anaknya (Cholil: 5 tahun, dan Mustofa: 3 tahun) terpaksa mengungsi ke Pare, Kediri. Hidup di pengungsian dengan ma’isyah yang kocar-kacir tidaklah mudah. Kyai Bisri mencoba mencari nafkah dengan menjajakan hiasan dinding dari rumah ke rumah–dibuatnya sendiri dari limbah kulit (sapi atau kambing) yang ditulisi berbagai maqalah pendek (kata-kata mutiara dalam bahasa Arab). Pekerjaan itu gagal. Kondisi ekonomi masyarakat yang pada umumnya sulit membuat hiasan dinding menjadi terlampau mewah bagi orang kebanyakan.

Tertekan oleh desakan kebutuhan perut keluarga, Kyai Bisri meninggalkan dagangannya dan mencoba peruntungannya dengan mencari ikan (memancing) di sungai. Apa mau dikata, hampir seharian ia menunggu, tak seekor ikan pun nyantol. Sementara itu, tak jauh dari tempatnya, seorang anak kecil justru bolak-balik memetik ikan dari mata pancingnya. Ini membuat Kyai Bisri iri.

“Cung,” Kyai Bisri menyapa, “kamu kok bisa dapat ikan banyak itu wiridanmu apa?”

Dasar anak kecil,

“Embuh ‘ra weruh,” (“entah, tak tahu aku”) jawab anak itu.

Terpojok di batas akal, Kyai Bisri mengambil begitu saja jawaban anak itu dan mewiridkannya,

“Embuh ‘ra weruh … embuh ‘ra weruh … embuh ‘ra weruh … embuh ‘ra weruh … embuh ‘ra weruh ….”

Ajaib! Seekor demi seekor ikan mulai nyantol di pancingnya sampai tercukupi nafkah keluarganya hari itu.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).