Fikih Ciblon

Syari’at adalah panduan untuk menetapi tingkah yang paling patut dalam setiap situasi atau aktifitas. Kepatutan itu ditimbang terkait hubungan antara manusia dengan tuhannya dan dengan sesamanya. Dalam sudut pandang ini, syari’at lebih merupakan “alat bantu” ketimbang “palu vonis”. Yakni membantu manusia untuk mencapai kebaikan, bukannya menghakimi.

Larangan menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat di tempat terbuka, misalnya, mengandung pertimbangan kepatutan terkait kemuliaan kiblat. Tetapi tidak berarti kepentingan pragmatis selamanya diabaikan.

Seseorang bertanya kepada As Sya’bi (Abu ‘Amr ‘Amir bin Syarahil bin ‘Abdi Dzi Kubar Al Humairi–seorang faqih dari kalangan tabi’in),

“Kalau aku mandi di sungai kemudian sekalian buang hajat di dalamnya, bolehkah menghadap atau membelakangi kiblat?”

Jawaban Asy Sya’bi:

“Menghadaplah ke arah pakaianmu kau letakkan, supaya tidak dicolong orang!”

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).