Bir

Ujian membaca kitab kuning. | Foto: PP Al Anwar, Sarang.

Membaca kitab (teks Arab) ala pesantren mengikuti tata-cara khas yang sudah menjadi adat sejak kuno. Ada kode-kode khusus dalam bahasa Jawa utuk menandai status gramatikal dari setiap kata. Misalnya: untuk mubtada kodenya: “utawi”; untuk khabar: “iku”; fa’il atau naibul fa’il: “sapa” (‘aqil) atau “apa” (ghoiru ‘aqil); maf’ul bih: “ing”; dan seterusnya. Sedemikian rupa teks dibaca dengan memaknainya kata per kata.

Contoh: teks “qaala Muhammadun huwa ‘bnu Malik” (berkatalah Muhammad putera Malik), dibaca dengan cara: “qaala wus ngendika sapa Muhammadun Mbah Muhammad huwa kang utawi Mbah Muhammad iku ibnu Malikin putrane Mbah Malik”.

Adapun kata-kata yang telah menjadi istilah teknis atau sulit dicari padanannya dalam bahasa Jawa, biasanya diterjemahkan dengan “menjawakan” bunyi Arabnya. Contoh: kata “asy-syarii’atu” yang definisinya amat panjang, diterjemahkan dengan: “sréngat”; kata “al-mu’aamalatu” yang berarti “transaksi perdata” diterjemahkan dengan: “mungamalah”; kata “al-haidlu” (menstruasi) diterjemahkan jadi: “hèt”.

Madrasah Diniyyah Nawawiyyah Tasikagung, Rembang, punya cara unik untuk membesarkan hati murid-muridnya, terutama saat hendak lulus. Sesudah ujian akhir yang lazim seperti sekolah-sekolah lainnya, kyai-kyai Rembang diundang untuk memberikan “ujian paripurna”. Aku ingat, pada waktu itu telah diumumkan sebelumnya bahwa bahan yang akan diujikan adalah kitab Al Arba’iin An Nawawiyyah, kumpulan empat puluh hadits tentang dasar-dasar ajaran Islam karya Al Imam Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya bin Syarof An Nawawi. Kitab itu memang telah diajarkan hingga khatam selama kelas enam.

Murid-murid diminta mengambil undian berupa gulungan kertas seperti arisan, bertuliskan angka-angka. Yang mendapat angka ganjil harus membuktikan penguasaannya atas kitab itu dengan membacanya lengkap dengan makna di hadapan kyai penguji. Sedangkan yang genap harus menunjukkan kemampuan menghafalnya.

Telah menjadi pengetahuan umum bahwa aku mengaji secara kocar-kacir, tak terkecuali selama menjadi murid di Madrasah keramat itu. Seingatku lebih banyak mbolos dari pada masuk. Aku selalu naik kelas hanya karena guru-gurunya sungkan memberi nilai jelek untukku. Mereka itu semuanya teman-teman ayahku, bahkan ada yang pernah menjadi murid di bawah pengajaran ayahku dan pamanku atau kakekku. Mana berani mendongkrokkan gus besar sepertiku?

Jelaslah semua itu membawa akibat buruk bagi diriku. Sementara teman-temanku mendapatkan maqamnya karena memang mampu, aku duduk bersama mereka hanya karena keramat gandhul.

Pada mulanya aku mendapat undian genap. Tapi tak secuil pun dari kitab itu yang aku hafal. Maka aku minta bertukar undian dengan Kurdi, yang mendapat undian ganjil. Kalau membaca, setidak-tidaknya aku bisa keluar bunyi. Daripada njiblek sama-sekali gara-gara hapalan kopong? Dan Kurdi, yang takut kuwalat kepada gus besar, tak punya pilihan selain menurut.

Ada empat orang kyai yang telah hadir untuk menguji secara berpasangan. Kyai Asfani Toha dan Kyai Wahab Hafidh mendapat bagian menguji hafalan. Sebagai penguji membaca adalah Kyai Mabrur dan Kyai Cholil Bisri, ayahku sendiri. Dari sini, motivasiku bertukar undian semakin gampang dipahami toh?

Ayahku membuka kitab secara acak dan menyodorkannya kepadaku. “Yang penting bisa bunyi … yang penting bisa bunyi …,” batinku berulang-ulang. Lalu dengan kebat-kebit mulai membaca.

Pada awalnya sih lumayan:

“… qaala wus dhawuh sapa Rosuulullaahi–Kanjeng rosul … kullu sulaamaa utawi saben-saben ros-rosan minan naasi sangking menungsa iku ‘alaihi tetep ingatase kulli sulaamaa shadaqatun utawi sedekah …,” dan seterusnya, sampai aku ketanggor kata yang tak kuingat artinya, “…  wa tu’iinu lan nulungi sira ar rajula ing wong lanang fii daabbatihi ing dalem …,” aku terdiam, Kyai Mabrur dan ayahku menunggu, “… ing ndalem …,” aku mengharap bantuan ayahku tapi yang kurasakan malah tatapan matanya semakin galak, “… ing ndalem …,” pikiranku gelap tak punya jalan keluar … sampai akhirnya aku nekad: “… fii daabbatihi ingndalem “dabbahe” rajul …,” dapat kurasakan Kyai Mabrur meringis sementara mata ayahku kian menyala-nyala, tapi mereka tak mengatakan apa-apa. Maka aku menebalkan muka meneruskan ngawurku, “… wal kalimatut thayyibatu utawi “kalima thayyibah” … wa bi kulli khathwatin lan kelawan saben-saben “khatwah” …,” dan seterusnya hingga akhir hadits.

“Terus!” suara ayahku garang sekali, menyuruhku melanjutkan ke hadits berikutnya. Pikiranku tambah kalut.

“’Anin Nawwaasi ‘bni Sam’aana radliyallaahu ‘anhu sangkin shahabat Nawwas …,” dan aku pun segera ketanggor lagi, “… qaala wus dhawuh sapa Kanjeng Nabi … al birru …,” aku berusaha keras mengingat-ingat makna kata itu, “… al birru utawi ….”

Ayahku tiba-tiba menyerobot,

“BIR!”

Dan aku pun tetap diluluskan lengkap dengan ijazah resmi.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).