Bidengah

Meskipun sering dituduh biang bid’ah, Nahdlatul Ulama bukannya tidak pernah meributkan soal bid’ah.

Di antara sebagian jama’ah thariqah Qadiriyah ada yang menambahi dzikir tahlil mereka dengan “Syaikh Abdul Qadir Jailani waliyyullaah“. Banyak kyai mempersoalkan tambahan itu. Di samping alasan “lompatan yang terlalu jauh” dari Kanjeng Nabi SAW langsung ke Syaikh Abdul Qadir Jailani, alasan “bid’ah dalam dzikir” pun ditembakkan pula. Sedemikian ramainya masalah ini diperdebatkan, sehingga kemudian dibawa ke forum bahtsul masail Muktamar NU ke-26 di Semarang, 1979.

“Aku mau ikut sendiri pembahasan soal ini!” kata Kyai Ali Ma’shum, “jangan sampai orang salah-salah menghukumi.”

Begitu masalah itu dibuka, Kyai Ali langsung angkat bicara,

“Penambahan itu tidak apa-apa! Seratus persen halal! Itu persis halnya waktu kampanye dulu kita teriak:

Laa ilaaha Illallaah – Muhammadur rosuulullaah – NU menang!”

Jawaban langsung diketok.

Barangkali berpegang pada hasil bahtsul masail itu, belum lama ini saya dapati sebuah majlis dzikir yang dipimpin oleh Gus Fulan (bukan nama sebenarnya, ayahnya entah kiyai mana) menetapkan dzikir wajib sebagai berikut:

Laa ilaaha illallaah – Muhammadur rosuulullaah – Syaikh Abdul Qadir waliyullaah – Gus Fulan maa syaa-Allaah.”

Keputusan tentang hukum penambahan kalimah “Abdul Qadir Waliyullah” itu dikonfirmasi dalam buku “Solusi Problematika Aktual Hukum Islam: Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926–1999 M), Cetakan Kedua, Terbitan LTNNU Jawa Timur dan Diantama, Halaman 370, sebagai berikut:

Jawaban masalah ini ada dua redaksi, yang satu dari Tim Perumus, sedangkan yang satu lagi dari Pimpinan Sidang dalam konggres:

a. dari Perumus: Boleh asal tidak dimasukkan dalam rangkaian dzikir;

b. dari Pimpinan Sidang: Dzikir/wirid yang berlaku adalah: Laailaaha illallaah Muhammad Rasulullah. Adapun menyebut menambah kalimah Syekh Abdul Qadir Waliyyullah boleh.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).