Ban Karambol

Biasanya Kyai Cholil Bisri, Rembang, datang ke pengajian agak lambat, mepet saatnya mau’idah hasanah. Tapi malam itu haflah di sebuah pesantren, Kyai Cholil datang mruput, sejak awal acara sudah duduk di majelis. Mungkin karena beliau penggemar suara emas Kyai Yusuf Kholil, Sedan, yang malam itu didapuk membawakan tilawah Quran.

Adalah Kyai Yusuf yang kemudian jadi bingung mendengar perintah Kyai Cholil saat ia turun panggung usai bertilawah,

“Kamu langsung pulang saja, Sup!” Kyai Cholil bicara dengan berbisik, tapi galak.

Kyai Yusuf melongo,

Mboten, Mbah, saya pengen mengikuti pengajian njenengan.”

“Nggak usah! Kamu pulang sekarang saja!”

“Saya ‘ndak kesusu kok, Mbah. Nggak ada acara lain ….”

“Sudah! Pokoknya kamu pulang sekarang!”

Hadirin pun lantas menyaksikan Kyai Yusuf berdiri, berpamitan dengan tuan rumah dan kyai-kyai yang duduk di deretan terdepan, lalu meninggalkan majelis pengajian. Hanya saja, ia ternyata tidak benar-benar pulang. Ia jongkok di sebelah motornya, yang ia parkir di halaman rumah tetangga pondok.

Pesantren itu cukup besar. Kyainya banyak, tapi kurang rukun satu sama lain. Di atas mimbar, Kyai Cholil menohok,

“Yang namanya kyai itu memang terkadang tidak kerasan dekat-dekat dengan kyai lainnya. Contohnya ya Kyai Yusuf tadi! Duduk di sebelah saya saja nggak kerasan dia! Apalagi mendengarkan omongan saya! Mentang-mentang sudah selesai tugas, langsung pulang dia!” dilanjutkan dengan uraian tentang pentingnya kerukunan antar-kyai, mewaspadai diri dari hasad, memelihara keihlasan, dan seterusnya.

Di tempat parkir, Kyai Yusuf garuk-garuk kepala,

“Waduh …, aku dijadikan ban karambol ….”

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).