Anak

Wahai, anak-anaknya orang awam, kalian tahu ngajiku kocar-kacir sekolahku kocar-kacir, kehidupan masa mudaku pun kocar-kacir. Tapi janganlah kalian iri kepadaku kalau sekarang orang-orang bodoh menyebutku kyai dan aku pun laku diundang ceramah ke sana ke mari dan jadi narasumber diskusi-diskusi ilmiah di sana-sini seolah-olah aku ini orang pandai.

Mbah Kyai Muromi, seorang kerabat ibuku dari Salatiga sana, mendatangiku suatu hari. Di ruang tamu tempat aku biasa menerima tamu-tamu pencari keramat, Mbah Muromi memandangiku lekat-lekat dari ujung kepala ke ujung kaki: kopiyah putih harga 25 real asli dari Mekah, baju takwa merek terbaik hadiah lebaran dari seorang saudagar, sarung pelekat yang pabriknya di Sulawesi hadiah lebaran dari seorang politisi. Tak terlalu kentara sudut-sudut bibir Mbah Muromi bergerak ke samping sedikit. Aku menandainya tapi tak tahu artinya. Apakah senyum atau mencep? Sorot matanya saja yang membuatku mengkeret. Jenaka tapi galak dan terus-terang. Aku baru merasa agak tenang ketika sorot mata itu mendadak berubah teduh.

“Kamu ini …,” beliau berkata, diselai helaan napas yang dalam, “seandainya pendahulu-pendahulumu bukan ahli tirakat … entah jadi apa kamu …?”

Aku terhenyak seolah tenggelam ke dalam busa kursiku.

* * *

Entah ke mana perginya kenakalan Gus Qayyum sewaktu kecil dulu. Alih-alih, kini Kyai Abdul Qayyum Manshur menampakkan keluasan dan kematangan ilmu di usia yang relatif muda. Solah-bawanya pun halus bukan buatan.

“Aku menirakatinya 12 tahun,” kata Mbah Manshur, ayahnya.

Gopar, penjual gorengan didekat Pondok Krapyak. Almarhum ayahnya dulu imam langgar di kampungnya, di Pekalongan sana. Saat lahir anak pertamanya, Gopar melapor kepada Kyai Cholil Bisri Rembang.

“Laki-laki, Mbah,” katanya.

“Alhamdulillah,” Kyai Cholil menanggapi ala kadarnya, lalu minta dipijit seperti biasa.

“Bapakmu dulu suka tirakat juga ya, Par?” Kyai Cholil bertanya di sela menikmati pijitan Gopar.

“Alhamdulillah, setahu saya memang begitu, Mbah.”

“Puasa?”

“Iya. Sering, Mbah. Cuma tidak ndawud atau ndalail.”

Kyai Cholil diam sejurus, seolah merenung.

“Lha iya, Par …,” beliau bergumam, “bapakmu sudah tirakat saja hasilnya cuma anak macam kamu. Kalau kamu tidak tirakat, anakmu jadi apa?”

Sejak saat itu, Gopar tak berhenti puasa ndawud sampai sekarang, lebih lima belas tahun kemudian.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).