Al Munawwir

Naskah kamus sudah selesai ditulis, tapi Kyai Warsun tak kunjung menyerahkannya kepada penerbit untuk dicetak. Ia membawa naskah itu ke Rembang untuk ditunjukkan kepada Kyai Bisri Mustofa,

“Mohon diperiksa, Kyai, kalau-kalau masih ada kekurangannya.”

Kyai Bisri malah tak mau menyentuh naskah itu.

“Buat apa?” katanya, “sudah jadi begini ya langsung dicetak saja!”

Kyai Warsun meringis bimbang,

“Lha wong Al Munjid saja (kamus bahasa Arab ensiklopedik karya dua pendeta Kristen asal Lebanon, Louis Ma’louf dan Bernard Tottle[red.]) masih banyak kesalahannya, apalagi cuma bikinan saya ini ….”

“Lha iya!” Kyai Bisri menyergah. “Walaupun masih banyak kesalahan diterbitkan ya nyatanya ‘ndak apa-apa toh? Tetap banyak manfaatnya juga toh?”

Kyai Warsun garuk-garuk kepala.

“Guuus, Gus …,” Kyai Bisri melanjutkan, “sampeyan itu sudah mencurahkan kemampuan habis-habisan untuk mengumpulkan, meneliti, menyusun, menulis, sampai jadi naskah sebegitu tebalnya …, kurang apa lagi? Sudah sangat besar jasa sampeyan. Nah, nanti kalau sudah diterbitkan, ya gantian tugasnya pembaca untuk meneliti kalau ada kekurangannya. Biar pembaca yang mengoreksi. Kalu perlu, biar orang lain menyusun kamus baru untuk menyempurnakan kamus sampeyan ini …. Lha sampeyan nyusun kamus ini kan maksudnya juga mengoreksi dan menyempurnakan Munjid toh?”

Kyai Warsun akhirnya medapatkan kemantapan untuk menerbitkan naskah itu. Atas saran Kyai Ali Ma’shum, kakak iparnya, kamus itu diberi judul “Al Munawwir”, tafa-ulan kepada Kyai Muhammad Munawwir, ayahandanya sendiri.

* * *

“Judul kitab yang enak ya seperti kamusnya Warsun itu, sederhana dan gampang diingat”, kata Kyai Ali kepadaku suatu kali, “jangan seperti embahmu …, bikin judul sukanya yang aneh-aneh … ‘Al Ibriz. Mbok tadinya kasih judul ‘Al Bisri’ gitu saja kan enak toh …?”
Lahumul Faatihah…

________

Catatan:
“Al Ibriz” (artinya: emas murni) adalah judul kitab tafsir Al Quran dalam bahasa Jawa karya Kyai Bisri Mustofa.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).