27 vs 72

Saya menyopiri serombongan kyai menuju suatu acara. Di antara beliau-beliau adalah Kyai Amin Imron (Almarhum), cucu buyut Syaikhona Kholil Bangkalan, ayahanda Ra Fuad Amin (sekarang Bupati Bangkalan).

“Kamu sudah kawin, Ya?” Kyai Amin bertanya kepada saya.

“Belum, ‘Yai…” (Waktu itu saya masih perjaka. Sumprit!)

“Waddhooo…. Maasak ‘dak beraanni kamu?” Kyai Amin meledek. Saya tersipu-sipu malu karena saya memang seorang pemuda yang sensitif dan lembut hati serta penuh sopan-santun lagi ramah-tamah tapi romantis dan penuh kasih sayang sekaligus manis bahkan imut.

“Kaalah kamu sama sayya! Sayya ini sudah kaawin dua puluh tujuh kaali”, Kyai Amin membanggakan diri, “Yang masih ada sekarang: tiga… Yang terakhir saya kawini… belum lama… umurnya 27. Padahal saya sudah 72!”

Lalu beliau mengijazahkan suwuk untuk menjadikan rukunnya isteri-isteri….

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).