Asal-usul Sebutan “Kyai”

Profil Kyai Maja pada wayang kontemporer.

Dalam masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, istilah “kyai” sangat dikenal dari zaman dulu hingga saat ini. Istilah ini merupakan penulisan dalam aksara latin Jawa Baru, yang dalam bahasa Indonesia kemudian dibakukan menjadi “kiai”.

Bagaimana sebetulnya awal kemunculan istilah ini, hingga ia berkembang menjadi sebutan gelar bagi ulama agama Islam, khususnya di Pulau Jawa, sebagaima yang secara umum berlaku sekarang? Tulisan singkat ini akan mencoba menjelaskan asal-usulnya.

Dalam naskah kuno, kata “kyai” ternyata tertulisnya “kyayi”. Salah satu contohnya adalah mertua Ranggalawe tertulis bernama “Kyayi Gĕng ing Palandongan”.

Kata “kyayi” di situ kemungkinan besar merupakan gabungan dari kata “ki” dan “ayi”. Berdasarkan hukum sandi, bunyi “i” bertemu “a” kemudian menjadi “ya”.

“Ki” adalah kependekan dari kata “aki” atau “kaki” yang bermakna “kakek”. Sedangkan “ayi” merupakan sinonim dari “ari” atau “adi” yang berarti “adik”. Seringkali kata “ayi” dilengkapkan menjadi “rayi” atau sering pula diucap “yayi”.

Jadi, istilah “kyayi” merupakan gabungan dari kata “ki” yang berarti “kakek” dan “ayi” yang berarti “adik”. Untuk lebih jelasnya lihat ilustrusi yang ditampilkan pada bagian bawah tulisan ini.

Mungkin pada awalnya istilah “kyayi” adalah sebutan untuk “adik(nya) kakek”, atau bisa juga berarti “kakek kecil”, yaitu paman dari ayah atau ibu. Namun seiring berjalannya waktu, panggilan “kyayi” kemudian menjadi bersifat umum, yaitu untuk menyebut “laki-laki tua atau dewasa yang dihormati”.

Untuk istilah “kyayi”, hingga saat ini masih lestari di wilayah Bali. Sedangkan di Jawa, sekarang kata ini berubah menjadi “kyahi”, yang karena bunyi “H” seringkali diucap samar maka kemudian berubah menjadi “kyai”. Untuk perubahan “Y” menjadi “H”, ini adalah kasus disimilasi antara golongan aksara ardhaswara dengan wisarga yang posisinya dalam warga aksara saling berdekatan.

Baca juga:   Anak

Pada perkembangan berikutnya dalam tradisi Jawa, istilah “kyahi” kemudian tidak hanya digunakan untuk menyebut “laki-laki tua atau dewasa yang dihormati”, melainkan juga untuk menyebut “segala hal yang dihormati bagaikan orang tua”. Termasuk di sini benda-benda pusaka dan binatang peliharaan yang diistimewakan.

Ilustrasi asal-usul istilah “kyai”.

Warga Kediri, kelahiran Wonosalam, Jombang, lulusan jurusan Kimia di FMIPA Universitas Negeri Surabaya (Unesa), penggemar wayang dan pengampu grup Belajar Bahasa Jawa Kuno (BBJK) di facebook.