Pulang

1996. Aku berangkat haji untuk pertama kalinya bersama adik perempuanku, Zainab, dengan paspor hijau. Ayah-ibu kami telah berangkat terlebih dahulu seminggu sebelumnya.

Usai ibadah haji, Abah justru melarangku pulang.

“Kamu di sini saja”, katanya, “minum zamzam sebanyak-banyaknya”.

Maka aku pun tinggal, di bawah pemeliharaan Mahrus, sepupuku yang telah setahun mukim di Makkah. Aku masih menyimpan tiket pesawat untuk pulang–di antara syarat memperoleh visa haji memang harus punya tiket pergi-pulang. Tiket itu tentu sayang kalau cuma dibuang. Mahrus menawarkannya kesana-kemari, mencari pembeli. Tak seorang pun mengajukan diri. Hingga akhirnya seorang mukimin dari Pati–sebut saja namanya Sobron–menyatakan berminat, dengan syarat aku bersedia menjual tiket itu sekalian dengan paspornya.

“Lha pulangku nanti pakai paspor apa?” tanyaku kepada Mahrus.

“Gampang. Bisa cari lagi.”

Ya sudah. Tiket beserta paspor terlego seharga 2.650 Riyal Saudi. Selanjutnya aku hidup di Makkah tanpa secuil pun dokumen identitas. Sungguh beruntung aku tidak mati di sana waktu itu. Seandainya aku mati, tentu mayatku tak punya jati diri. Dalam catatan Pemerintah kedua negara, Yahya Cholil Staquf sudah kembali ke Indonesia, sesuai tanggal tiket yang dipakai Sobron berikut paspornya.

Sekitar 15 bulan aku mukim di Makkah. Selama itu, paling tidak tiga kali aku nyaris ditangkap polisi. Allah menyelamatkanku dari nasib deportasi.

Usai musim haji berikutnya, ibuku ngotot menyuruhku pulang, walaupun aku merasa masih kerasan. Mahrus berhasil mendapatkan kontak dengan mafia Madura, yang di antara mukimin dikenal sebagai “Jawazat (kantor imigrasi) Swasta”. Dari kontak itu Mahrus memperoleh jaminan untuk mengatur kepulanganku, yakni menyediakan tiket dan “dokumen apa pun yang diperlukan”, dengan imbalan 2.750 Riyal Saudi–aku rugi 100… apa boleh buat. Karena reputasi “Jawazat Swasta” itu memang tak diragukan, aku bersedia membayar semata-mata berdasarkan kepercayaan, walau tak selembar kertas pun diserahkan kepadaku. Mereka hanya memberitahuku waktu pemberangkatan yang telah ditentukan.

“Besok hari Rabu jam tiga sore, tunggulah di bandara Malik Abdul Aziz, Jeddah, di dekat pintu terminal untuk penerbangan reguler,” begitu pesan yang kuterima, “Ingat: namamu nanti SULAIMAN.”

Aku tidak terlalu paham, kenapa namaku jadi Sulaiman. Tapi aku tak ambil pusing. Yang penting bisa pulang.

Setelah hampir satu jam aku jongkok memeluk koper di dekat tong sampah di depan pintu terminal, sebuah mobil pikap–yang bak belakangnya dijejali banyak orang laki-perempuan seperti kumpulan kambing–melintas pelan di depanku.

“Sulaiman?” sopirnya berteriak sambil menunjuk kearahku. Serta-merta aku tahu, ia memaksudkan diriku.

Bergabung dengan rombongan “kambing” yang baru turun dari mobil, barulah aku menerima sebuah paspor. Langsung kubuka halaman identitas:

Nama : Muhaki Sulaiman
Umur : 43 tahun
Alamat: Sumenep

Di tempat yang seharusnya ada tanda tangan, hanya terdapat cap tiga jari. Dibawah cap tiga jari itu terdapat tulisan dengan huruf kapital besar-besar: ILLITERATE!

Aku mengumpat dalam hati. Sialan! Masa aku dijadikan orang buta huruf?

Tak lama kemudian, boarding pass dibagikan. Kuteliti punyaku: “Passanger Name: Saefudin B”. Waduh, apakah pembagiannya keliru?

Kutengok teman-teman serombonganku, tampaknya segala sesuatu baik-baik saja bagi mereka. Bahkan tak seorang pun memperdulikanku. Jadi, punyaku tertukar dengan siapa? Aku bingung. Aku sungguh kebat-kebit. Kalau diperiksa imigrasi nanti gimana? Boarding pass dengan pasporku tak cocok namanya.

Aku harus membereskan muskilah itu. Tapi pada siapa aku bisa bertanya? Sopir yang mengantarkan rombongan itu tak kelihatan lagi batang hidungnya. Petugas-petugas bandara itu, mana berani aku mendekatinya? Lagi pula, mana boleh aku bertanya? Aku ‘kan BUTA HURUF!

Belakangan baru keketahui bahwa jaringan mafia itu telah meliputi petugas-petugas imigrasi bandara pula. Petugas imigrasilah yang mengantarkanku hingga pintu pesawat, tanpa sedikit pun kesulitan menyentuhku.

Al…ham…dulil…laaaahhh…

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Presiden Republik Terong Gosong. Pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).