Pandemi Meluas, Otak Anak Makin Menyempit

Foto: Ilustrasi

Baru-baru ini sebuah video lucu saya saksikan di instagram, memperlihatkan beberapa anak yang ditanya tentang nama pahlawan dan mereka menjawab tidak tahu. Tetapi ketika diminta menyebutkan nama aplikasi game (permainan) online mereka mampu menjawab dengan lancar.

Sekilas fenomena ini bukan suatu hal yang serius. Namun secara tidak langsung hal itu menunjukan bahwa adanya pandemi ini membuat otak anak jadi menyempit. Bukan berarti ukuran otaknya yang mengecil, melainkan wawasannya yang semakin menyempit sebab kepalanya hanya diisi dengan game.

Mungkin pandemi ini bukan penyebab utama yang membuat anak-anak tersebut tidak tahu atau tidak hafal nama-nama pahlawan. Namun dari situ dapat dibayangkan bahwa kondisi belajar di rumah secara online (dalam jaringan atau disingkat “daring”) seperti sekarang ini memperbesar peluang digantikannya isi kepala anak-anak oleh hal-hal lain di luar materi pelajaran atau ilmu pengetahuan (sains), termasuk di antaranya oleh berbagai macam game online.

Jangankan memahami sains dan matematika, yang untuk mempelajarinya cenderung membutuhkan usaha keras–di mana saya sendiri yang telah menjadi guru pun masih sering “pusing” dibuatnya, untuk wawasan yang bersifat naratif seperti ilmu pengetahuan sosial saja kemampuan memahami mereka masih sangat rendah, apalagi wawasan tentang sains dan hitungan.

Jaringan internet yang belum merata di Indonesia juga menjadi masalah tersendiri pada pembelajaran daring. Andaipun wilayah mereka sudah terjangkau oleh jaringan internet, tak sedikit siswa yang tidak mengerjakan tugas sekolah karena perangkat smartphone yang mereka miliki lebih banyak digunakan untuk hal-hal selain belajar. Padahal selama berada di rumah, berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh orang tua, anak-anak mereka nyaris tidak pernah lepas dari smartphone dengan alasan mengerjakan tugas dari sekolah.

Di samping itu, sebagi guru saya juga sering mendengar keluhan orang tua siswa, bahwa mereka terbebani oleh biaya internet yang cukup besar dengan alasan mengerjakan tugas sekolah atau untuk proses pembelajaran daring. Pedahal anak-anak mereka biasanya membeli paket data yang hanya untuk menonton youtube dan bermain game.

Belum lagi tidak semua orang tua mempunyai kemampuan ekonomi untuk membeli smartphone. Hal ini membuat anak-anak mereka terpaksa harus menitip tugas kepada teman. Akibatnya, terkadang si anak menjadi malu kalau terlalu sering menitip tugas kepada temannya sehingga membuat si anak tidak mengerjakan tugas.

Karena permasalahan tidak adanya smartphone menyebabkan anak menjadi minder dan kehilangan semangat belajar. Kalaupun ada semangat, ia pun masih harus mampu menundukkan rasa malu untuk meminjam smartphone milik temannya. Berbagi kendala ini pada gilirannya akan berakibat nilai pelajaran si anak yang menjadi lebih rendah dibandingkan teman-temannya yang telah terfasilitasi dengan smartphone.

Kebiasaan bermain game online hingga kecanduan dapat menimbulkan dampak psikologis berupa hilangnya semangat dan konsentrasi anak dalam belajar. Dan kurangnya kesempatan orang tua dalam mendampingi anaknya selama pembelajaran secara daring juga semakin memperburuk hasil pendidikan dihasilkan selama pandemi ini. Kompleknya permasalahan pendidikan di era pandemi ini, menjadikan kita sebagai guru maupun orang tua bahkan negara harus berkolaborasi secara intensif agar tercipta peroses pembelajaran yang efektif.

Apabila daring memang dianggap sebagai solusi yang bisa dijalankan saat ini, maka pemerintah harus mampu membangun sistem pembelajaran daring yang efektif dan efisien. Dan berbagai permasalahan yang menjadi kendala pelaksanaannya pun haru diatasi, mulai dari permasalahan jaringan internet, kemampuan ekonomi orang tua untuk membeli perangkat dan paket data, dan sebagainya. Semua permasalahan harus dicarikan jalan keluarnya oleh pemerintah dan bukannya hanya melakukan pembiaran saja.

Di tengah kompleksitas permasalahan pembelajaran daring, yang diharapkan dari pemerintah adalah kehadirannya dalam memberikan solusi dan bukannya hanya dalam bentuk instruksi saja. Jangan sampai negara mengorbankan pendidikan dengan membiarkan proses pembelajaran daring tetap dengan berbagai permasalahannya yang akan berdampak pada kualitas penerus bangsa ini di masa depan.

Kalau melihat di beberapa sektor lain pemerintah sudah memperbolehkan pelaksaannaan secara offline (luar jaringan) dengan menerapkan protokol kesehatan, karena alasan agar roda ekonomi tetap berjalan, di sektor pendidikan seharusnya juga begitu. Hal ini misalnya bisa dilakukan dengan mengatur jadwal yang dibuat bergilir atau pembatasan jumlah siswa dalam kegiatan pembelajaran tatap muka.

Namun semua kembali lagi kepada pandangan bangsa ini terhadap dunia pendidikan. Apakah hanya sebatas retorika dan formalitas belaka, ataukah hal itu telah menjadi prioritas dalam program pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah, sebagaimana program pembangunan infrastruktur yang tetap berjaya meskipun negara tidak sedang dalam kondisi yang baik-baik saja.

Lahir 24 tahun silam, bercita-cita menjadi penulis dan guru besar. Pernah meraih Juara II Cipta Cerpen dan Juara I Cipta Puisi Tingkat Kabupaten, serta Juara I Oliempiade Penelitian Siswa Indonesia Tingkat Provinsi. Saat ini menjadi pengajar di Sekolah Dasar Eka Tjipta Foundation region Kalimantan Tengah.