Nyantri Serius Lewat Parodi Seputar Dunia Pesantren

Kopdar Terong Gosong di Tambakberas, 25 Desember 2010. Sebagian peserta berfoto bersama seusai ziarah di makam KH. Wahab Hasbullah. | Foto: Dok. Terong Gosong.

Terong. Sejenis buah-buahan atau sayur-sayuran? Terong yang nama botaninya adalah solanum melongena dan merupakan kerabat dekat tomat dan kentang. Menurut referensi sih, terong masuk kelompok sayur-sayuran yang dikonsumsi buahnya. Mungkin ini sedikit membingungkan bila membayangkan terong ternyata sayuran yang berbuah.

Tetapi kebingungan itu akan lenyap bila terong sudah diolah sebagai hidangan yang mayoritas disukai banyak orang. Nah, seperti itulah mungkin komunitas Terong Gosong. Seperti terong, komunitas ini cukup unik. Mereka punya motto ‘ketawa secara serius’. “Bisa jadi orang akan bertanya-tanya seperti apakah ketawa secara serius yang menjadi motto Terong Gosong itu?” ujar Yahya Cholil Staquf, pengelola dan pemimpin komunitas Terong Gosong.

Yahya membuka group Terong Gosong pada 13 Mei 2009. Ketika membentuk komunitas pertemanan melalui jejaring sosial di dunia maya ini, ia hanya bertujuan untuk memanfaatkan kemajuan teknologi agar bisa mendokumentasikan cerita-cerita di seputar dunia pesantren.

Dalam kesehariannya, Yahya aktif bersama pamannya, Kyai Mustofa Bisri, yang lebih dikenal dengan nama Gus Mus, di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Al Islami (Taman Pelajar Islam). Berangkat dari latar belakang ini maka ia berinisiatif membuka blog khusus santri, yaitu: Blogsantri.com.

Blog ini diharapkan menjadi media alternatif selain media cetak yang bisa menampung dan mengakomodasi kreativitas dan inspirasi para santri. Secara bertahap, ia bersama tim kreatifnya akan mengadakan pelatihan-pelatihan blog untuk mengaktifkan dan memberdayakan kemampuan santri di bidang teknologi informasi.

Memasuki awal tahun 2011, Yahya sedang merampungkan buku yang berisi kumpulan kisah-kisah yang pernah ditampilkan di halaman Terong Gosong. Rencananya Febuari 2011, buku ini akan diterbitkan.

“Kumpulan kisah-kisah Terong Gosong adalah salah satu bentuk dedikasi saya kepada para kyai pendahulu. Dahulu, para kyai membangun ikatan emosional dengan para santrinya melalui budaya tutur. Dengan mengisahkannya kembali melalui buku ini, saya berharap para Nahdliyin muda bisa mengenal dan merasa dekat dengan sosok para sesepuh Nahdliyin,” ujarnya sumringah dengan serius.

Sebagai putra kyai Muhammad Cholil Bisri (alm.), salah seorang kyai sepuh di Rembang tentu saja ia mempunyai banyak cerita unik mengenai berbagai pernik-pernik kehidupan pesantren. Selain itu, ia pernah memangku jabatan publik sebagai Juru Bicara Presiden Abdurahman Wahid.

Dari interaksi sosial dengan berbagai lapisan masyarakat itulah ia mengalami berbagai macam kejadian. Termasuk kejadian-kejadian mengejutkan yang dianggap kebanyakan orang “tidak lumrah”.

Karena ada sebagian orang lain yang masih berpegang pada nilai-nilai tradisional yang sudah banyak dilupakan oleh kebanyakan orang. Walaupun sebenarnya nilai-nilai yang terlupakan itu mengandung pesan dan norma tentang tradisi adat dan adab yang mulia.

Tetapi jangan mengira bahwa Terong Gosong berisi cerita-cerita serius yang akan membuat dahi berkerut. Sebaliknya, Terong Gosong menyajikan kisah-kisah yang sarat dengan muatan nilai-nilai dalam kemasan parodi yang cair, santai, lucu dan menyenangkan.

Pembaca Terong Gosong bisa menikmati persoalan-persoalan yang terabaikan seperti penghormatan kepada orang tua dan guru, setia kawan, semangat, keuletan, ketekunan, sikap rendah hati dan kesediaan untuk mengalah, tanpa merasa digurui.

Sampai saat ini, anggota komunitas Terong Gosong sebanyak 6.873 orang. Yahya menganggap jalinan persahabatan melalui forum komunitas dunia maya juga perlu direalisasikan ke dunia nyata. Oleh sebab itu, pada tanggal 25 Desember 2010 yang lalu, komunitas Terong Gosong mengadakan kopi darat (kopdar) pertama.

Lan Fang (tengah) bersama peserta lain manyantap hidangan sambal terong di Kopdar Terong Gosong di Tambakberas. | Foto: Dok. Terong Gosong

Kopdar digelar di Ponpes Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Sekitar 50 anggota komunitas yang berasal dari Jombang, Surabaya, Malang, Ponorogo, Tangerang, Rembang, Jepara, dan sebagainya hadir. Dalam tatap muka perdana itu acara dikemas acara khas Nahdliyin yaitu silahturahmi dan ziarah ke makam Kyai Wahab Hasbullah di Tambak Beras dan Gus Dur di Tebuireng.

________

Tulisan ini pernah dimuat di harian Radar Surabaya, 9 Januari 2011.

Lan Fang

Lahir di Banjarmasin 5 Maret 1970 dan meninggal di Singapura 25 Desember 2011 pada umur 41 tahun. Ia adalah seorang novelis yang telah melahirkan beberapa karya yang di antaranya adalah Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-Laki yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), Lelakon (2007), dan Ciuman di Bawah Hujan (2010) yang merupakan novel terakhir dalam hidupnya.