Media di Tengah Infodemi

Ilustrasi: TWP

Perkembangan covid-19 makin mengerikan. Kabar kematian datang hampir tiap hari lewat WhatsApp Group (WAG), Facebook, dan yang lainnya. Kabar duka itu bercampur dengan gelombang informasi yang susul menyusul tiada henti. Kita pun dibikin dag dig dug setiap hari. Sampai-sampai ada guyonan: “Mau sehat? Jangan baca berita corona.”

Banyak yang kemudian bertanya, apa yang mesti kita lakukan? Setiap orang mengingingkan tubuh sehat. Inilah kata kuncinya. Maka bertambahlah kebutuhan untuk mencari sehat, yang terlihat melalui banyaknya informasi yang cemawis di internet. Lalu tiap orang mempunyai caranya sendiri-sendiri untuk mencapai sehat.

Sejak awal kasus covid-19 (selanjutnya disingkat “covid” saja) muncul di China, banyak pakar yang menganalisa bahwa kita bukan hanya berada dalam situasi pandemi, melainkan juga berada di bawah bayang-bayang infodemi. Jika pandemi covid berhubungan dengan bagaimana virus menyerang manusia, infodemi berkaitan dengan krisis akibat overload (kelebihan muatan) informasi.

Infodemi sama bahayanya dengan covid. Sebab infodemi bisa berpengaruh pada psikologi dan daya nalar seseorang dalam menentukan langkah terkait pencegahan atau penanganan covid. Berondongan informasi yang tiba-tiba muncul membutuhkan kedewasaan berpikir dan upaya mengelola kepanikan agar tidak jatuh pada keputusasaan dan kekeliruan mengambil tindakan.

Secara bahasa, “infodemi” (infodemic) merupakan gabungan dari kata “information” dan “pandemic”. Dr. Hermin Indah Wahyuni, ahli komunikasi massa dari Universitas Gadjah Mada, dalam sebuah wawancara menyebutkan bahwa infodemi merupakan fenomena saat informasi justru menjadi pandemi  karena kondisi-kondisi tertentu yang kurang ideal, di antaranya jumlah informasi yang berlimpah (overload  of information) menyebar secara cepat walaupun tidak jelas akurasi dan ketepatannya. (Balairung vol. 2 no. 2 [2020]). Fenomena semacam ini muncul pada situasi yang penuh ketidakpastian, salah satunya ketika pandemi covid seperti sekarang ini.

Munculnya infodemi saat ini salah satunya dapat kita lihat melalui respon masyarakat terhadap pemberitaan media, meskipun hal itu tidak melulu berurusan dengan media. Dari perbincangan yang muncul di media sosial, kerap kita baca lontaran kata-kata, “virus corona sebenarnya biasa-biasa, tapi media saja yang membesar-besarkannya.” Media kemudian menjadi common enemy (musuh bersama) karena seringnya memberitakan tentang covid dan berbagai hal yang berkaitan dengannya, seperti cara pemerintah menanganinya, data jumlah pasien, kelangkaan oksigen yang terjadi di beberapa daerah, dan sebagainya.

Tulisan ini bukan bermaksud menjadi semacam pembelaan atas kerja-kerja jurnalistik di media, namun ada beberapa hal yang kiranya perlu dipertimbangkan. Pertama, di satu sisi, pemberitaan media terkait covid adalah alarm bagi masyarakat akan bahayanya covid. Sementara di sisi lain, media sebagai berposisi kontrol pemerintah dalam penanganan covid.

Jacob L. Nelson, Assistant Professor of Digital Audience Engagement, Arizona State University, mencatat bahwa kepercayaan publik Amerika terus menurun di tengah wabah covid. Di antara penyebabnya adalah media sosial yang mencampuradukkan antara berita dan non-berita, antara informasi jurnalistik dengan yang non-jurnalistik. Selain itu ada juga alasan politik yang mengkotak-kotakkan media sesuai ideologi mereka. (“Coronavirus: News media sounded the alarm for months – but few listened”, TheConversation.com, 26 Maret 2020). Dan apa yang dikatakan Jacob L. Nelson di atas sepertinya juga tengah terjadi di Indonesia, yakni media semakin turun kredibilitasnya.

Hal kedua yang perlu dipertimbangkan adalah data tentang jumlah hoaks (hoax), atau istilah lainnya “fake news“, berita palsu. Kementerian Kominfo mencatat, bahwa pada Mei 2021 terdapat 1.733 hoaks terkait covid dan vaksin. Ribuan hoaks itu diidentifikasi menyebar di beberapa platform media sosial yang sebagian di antaranya kemudian diproses secara hukum menggunakan UU ITE. Hal ini menunjukkan bahwa hoaks yang banyak beredar sebetulnya bukan diproduksi oleh media.

Kita memang tidak bisa menutup mata akan adanya “media nakal” yang memanfaatkan pemberitaan tentang covid untuk mencari keuntungan. Akan tetapi, proses pembuatan berita di media telah melalui berbagai tahapan sesuai kaidah jurnalistik dan diatur oleh UU Pers nomor 40 tahun 1999 serta diawasi oleh Dewan Pers. Artinya, serendah-rendahnya kualitas berita di media, pasti sudah melalui proses verifikasi. Hal ini berbeda jika yang membuat “berita” adalah seseorang pribadi yang kemudian menyebarkannya melalui media sosial.

Artinya, di era sekarang siapapun bisa memproduksi informasi dan menyebarkannya secara massif. Jika dulu hanya media massa yang mempunyai kemampuan untuk itu, sekarang sudah tidak lagi. Sehingga, menempatkan media sebagai common enemy karena pemberitaan-pemberitaannya tentang covid tentu saja kurang fair, kurang jujur dan adil. Alasannya ya karena sekarang ini hampir semua orang bisa memproduksi informasi.

Yang ketiga, menggiring opini bahwa pemberitaan media dapat memperparah kondisi pandemi sebenarnya hanya akan merugikan masyarakat sendiri. Karena yang seharusnya menjadi common enemy adalah covid itu sendiri. Covid dan bahaya yang ditimbulkannya itu nyata. Dan adanya bukan karena pemberitaan media. Ia akan tetap ada sekalipun tidak ada media yang memberitakannya. Malah jika tidak diberitakan, para pemangku kebijakan bisa menjadi tak terkontrol dalam melakukan penanganan covid.

Di tengah duodemi–pandemi covid dan infodemi–saat ini, kita memang perlu bijak untuk mengelola informasi yang kita terima. Tidak semua informasi yang beredar di sekitar kita benar-benar kita butuhkan. Dan ungkapan “konsumsilah informasi sesuai kebutuhan saja” agaknya sangat cocok untuk situasi sekarang. Sehat, waras, akas.

Penulis dan jurnalis, tinggal di Bojonegoro. Lulusan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.