Imam Samudra dan Kurma California

Kurma California

November 2021 ini, sudah 13 tahun eksekusi itu dilakukan. Pemilik nama asli Abdul Azis ini lebih dikenal dengan nama pop-nya, Imam Samudra. Pria kelahiran Serang, Banten, 14 Januari 1970, tersebut meninggal dieksekusi hukuman mati, 9 November 2008 silam, di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Dia dieksekusi bareng kakak beradik asal Solokuro, Tenggulun, Lamongan, Amrozi dan Ali Ghufron.

Almarhum Imam perangainya dikenal cukup berkebalikan dengan rekan satu tim-nya, Amrozi, yang mengebom Sari Club dan Paddys Pub, Legian, Kuta, 12 Oktober 2002. Bom yang menewaskan 202 orang berbagai bangsa. Sebagian besar orang Indonesia sendiri. Bukan warga asing.

Amrozi biasa diakrabi wartawan dengan gaya cengar-cengirnya. Sebaliknya, Imam dikenal dengan tongkrongan seriusnya. Jangan harap dia bergaya cengengesan, atau tersenyum saat difoto. Tidak bakalan.

Saya sempat ngobrol sebentar. Jarak jauh, saat almarhum masih menjalani hukuman di Lapas Kerobokanm Bali. Di bawah tower tandon air lapas.

Waktu itu seusai upacara 17 Agustus 2003. Seusai liputan 17 Agustusan di lapas, dari jarak sekira tujuh atau delapan meter, sempat saya mengobrol dengannya. Karena saya ingin sekali tahu bakal buku yang ditulisnya (kelak, buku itu berjudul Aku Melawan Teroris).

Dia mau diajak ngobrol setelah saya beri tahu, bahwa saya dulu adik kelas istrinya, Zakiah Darajat. Zakiah kakak kelas satu tahun di atas saya. Dia dikenal sebagai pegiat OSIS di sekolah, SMAN 1 Jepara, Jawa Tengah, tahun 1987-1990. Saya tahu bahwa istrinya Zakiah Darajat asal Bangsri, Jepara, setelah membaca tulisan tentang Imam Samudra di Jawa Pos, yang ditulis wartawan Jawa Pos Radar Kudus, Ganang Rosidi.

Saya awali perkenalan kepada Imam dengan menuturkan saya dulu adik kelas istrinya itu. “Oh, ya?” begitu saja sahutnya.

Dia terkesan tidak mau beranjak terlalu jauh ke urusan nostalgia. Dia lebih antusias ngobrol soal jihad, jihad, dan jihad. Ngobrolnya juga kurang nyaman, dari jarak jauh.

Saat asyik mengobrol, tiba-tiba salah seorang sipir lapas menghampiri untuk menghentikan percakapan kami. Baru sekira 10-15 menit saja. Akhirnya saya pamit. Ngeloyor meninggalkan percakapan.

Maklum, waktu itu saya ditugasi Jawa Pos untuk menulis feature tentang buku Imam Samudra yang sedang dalam proses penulisan. Saya sempat mendapat foto copy tulisan tangan Imam Samudra dari pengacaranya, Qadhar Faisal.

Makanya saya mengikuti terus perkembangan tulisan Imam, lewat pengacaranya. “Masih terus menulis. Masih dalam proses,” ujar Qadhar, suatu ketika setelah berkunjung dari Lapas Kerobokan. Saya harus update perkembangan, demi mendapatkan bahan tulisan. Harus telaten.

Imam, begitu dituturkan Qadhar Faisal, rajin beribadah. Selama di lapas, tak hanya ibadah wajib, juga ibadah sunnah. Termasuk puasa sunnah yang paling berat, Puasa Dawud. Selang sehari puasa, selang sehari tidak.

Hingga suatu ketika, saya ingin turut memberinya sedekah buah kurma untuk puasa. Dan madu. Karena buka puasa pertamanya katanya dengan kurma dan madu.

Begitu mendapatkan madu, saya tinggal mencari buah kurma di kawasan pertokoan kebutuhan Muslim, di Jalan Kalimantan, Denpasar. Saya ambil kemasannya yang paling bagus. Paling keren. Mau saya titipkan ke Qadhar Faisal.

Ternyata begitu sampai di lapas, menunggu Qadhar keluar, saya lihat kertas kemasannya ternyata ada tulisan kurma impor dari California, Amerika Serikat.

Aduh, ini bisa jadi masalah serius ini, saya pikir. Karena Imam Samudra sangat anti berat Amerika Serikat, yang menjadi musuh utama jihadnya. Bahkan dengan sekutunya. Dia biasa menyebutnya sebagai negara-negara kaum kafir. Negara thaghut. Dan sejenisnya.

Akhirnya saya punya ide. Saya buka, ganti kemasan. Saya beli plastic. Saya masukkan buah kurma itu ke dalam plastik.

Akhirnya, urusan pemberian buah kurma dan madu selesai. Pak Qadhar Faisal menyampaikan terima kasih. Dalam pertemuan berikutnya dia mengaku buah kurma dan madu itu sudah disampaikan.

Imam dikenal punya rekam jejak panjang dalam sejumlah aksi terorisme di negeri ini. Dia mengaku sebagai pengebom malam Natal 2000, pengeboman gereja di Batamm, juga peledakan Plaza Atrium Senen, Jakarta, tahun 2001.

Dalam perkembangannya, usai ditangkap, dia juga mengaku bertanggung jawab atas pengeboman gereja Santa Anna dan HKBP di Jakarta.

Setelah melakukan pengeboman tersebut, Samudra pergi ke Malaysia berkomplot dengan pegiat garis keras lainnya, Dr. Azahari dan Noordin M. Top.

Pria dengan sorot mata tajam ini pada tahun 2002 kembali lagi ke Indonesia. Dia salah satu pelaku aktif dalam pengeboman di Legian, Kuta, Bali, yang berdampak luar biasa atas remuk redamnya pariwisata dan perekonomian Pulau Dewata.

Sewaktu masih menjalani hukuman di Lapas Kerobokan, saya juga pernah kena semprot dan gugatan darinya. Penyebabnya, saya menulis omongan Ali Imron, adik Amrozi (sekarang terpidana seumur hidup), yang mengatakan bahwa ada perbedaan visi di antara para napi teroris.

Sebagian ada yang kooperatif, sebagian lagi tetap keras, tak ada kompromi saat penyidikan. Juga saat menjalani pidana. Terkait hal-hal sepele, macam urusan merokok.

Ali Imron perokok. Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudra sangat anti rokok.

Penuturan cerita dari Ali Imron tersebut saya tulis dan tayang di Jawa Pos saat itu. Entah baca koran dari mana, Imam sempat murka dan menyatakan hendak menggugat Jawa Pos. Dari cerita pengacaranya angka yang disebut secara lisan nilainya mencapai Rp 100 miliar. Saya masih menyimpan surat tulisan tangan itu.

Surat tulisan tangan Imam Samudra.

Saya katakan saya minta maaf kalau ada kalimat yang kurang berkenan dan sekaligus menanyakan kepada pengacaranya, Qadhar Faisal, apakah akan menggugat Jawa Pos beneran? “Nanti saya omongin. Dia sedang emosi berat kayaknya,” ujarnya. Dan, akhirnya gugatan itu tidak pernah terlaksana.

Sekarang , tahun 2021, sudah 13 tahun eksekusi mati itu lewat. Tetapi, sampai sekarang, setiap bulan Ramadan, kalau berbuka puasa dan makan kurma saya masih teringat kurma Imam Samudra. Kurma California asal Amerika Serikat yang saya beli dengan tidak sengaja itu.

Jurnalis dan kolumnis asal Jepara, tinggal di Bali.