Katib Aam PBNU Melawat ke Amerika

Katib Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, saat berdialog dengan mantan Menteri Luar Negeri AS, Michael Pompeo, dalam kunjungannya ke Indonesia atas undangan GP Ansor. | Foto: Twitter @SecPompeo

Washington, DC, Terong Gosong – Walaupun dibayang-bayangi pandemi, masyarakat internasional tidak dapat menunda upaya mencari jalan keluar dari berbagai masalah yang tidak kalah mendesaknya, terutama terkait ancaman konflik yang semakin membahayakan di tingkat lokal, regional, dan global.

Setelah tidak kurang sepuluh tahun terakhir berkecimpung dalam aktivisme perdamaian dunia, Katib Aam PBNU pun tidak dapat mengelak dari tuntutan untuk melibatkan diri dalam kerja sama dengan berbagai pihak internasional yang harus segera dimulai tanpa menunggu berakhirnya pandemi.

Sabtu malam (10/7/2021), Katib Aam, KH. Yahya Cholil Staquf–yang akrab dipanggil Gus Yahya, berangkat ke Amerika Serikat untuk lawatan lima hari di Washington, DC.

Ada lima agenda utama dalam lawatan kali ini.

Gus Yahya diminta terlibat dalam pembicaraan menyangkut agenda IF20 (Inter Faith 20), yaitu agenda sandingan dalam KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) G20, yang tahun ini (September yang akan datang) akan digelar di Bologna, Italia.

Sebagai wakil dari Gerakan Global Islam Untuk Kemanusiaan (Humanitarian Islam), Gus Yahya akan menggelar KTT bersama Komunitas Masjid Muhammad atau dikenal juga sebagai The Nation’s Mosque, yaitu komunitas Muslim Afro-Amerika yang nenek-moyang mereka diperbudak di Amerika sekian abad yang lalu, dan WEA (World Evangelical Alliance), organisasi Evangelis Internasional dengan pengikut lebih dari 600 juta orang di 140 negara. KTT itu bertajuk: “Building a Global Alliance Founded Upon Shared Civilizational Values” (Membangun Aliansi Global Berdasarkan Nilai-nilai Keadaban Bersama).

Selanjutnya, mantan Anggota Dewan Pertibangan Presiden ini akan mengikuti KTT IRF (International Religious Freedom Summit) selama tiga hari dan menyampaikan pidato pada salah satu plenonya dengan topik: “The Rising Tide of Religious Nationalism” (Pasang Naik Nasionalisme Relijius).

Di sela-selanya, telah dijadwalkan pertemuan-pertemuan dengan sejumlah Senator Amerika, yaitu Mitt Romney, Benjamin Sasse, dan Thomas Cotton.

Gus Yahya juga akan berbagi panel dengan Michael Pompeo, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang berkunjung ke Jakarta atas undangan GP Ansor bulan Oktober tahun lalu, dalam satu konferensi yang digelar oleh Hudson Institute, salah satu think tank terbesar di Amerika, untuk mendiskusikan masalah-masalah terkait Stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

“Saya akan mengusung gagasan-gagasan yang bersumber dari idealisme Nahdlatul Ulama, nilai-nilai Pancasila serta pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945”, mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid ini menjelaskan, “Visi kemanusiaan dalam Idealisme NU dan fondasi NKRI mengandung inspirasi yang sangat dibutuhkan untuk mencari jalan keluar dari ancaman destabilisasi global yang paling berbahaya dewasa ini, yaitu konflik antar identitas, baik etnik, agama, maupun ideologi sekuler”.

Gus Yahya dijadwalkan meninggalkan Washington, DC hari Jum’at (16/72021) malam waktu EST (Eastern Standard Time) dan tiba kembali di Tanah Air hari Minggu (18/7/2021) siang Waktu Indonesia Barat.